|
Ditulis oleh Muhammad Shaleh Drehem, Lc.
|
|
Hati manusia memang unik. Tidak hanya ia mudah berbolak-balik, namun ia juga bermacam-macam keadaannya. Dilihat dari keadaannya, hati manusia bisa dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, hati yang bersih dan sehat (qalb shahih, qalb salim). Inilah hati yang akan menyelamatkan seseorang di akhirat, yang disifati oleh Allah dalam firman-Nya: “(Itulah) hari dimana harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88-89). Hati yang sehat adalah hati yang senantiasa menerima dan patuh kepada aturan-aturan Allah, dan pada saat yang sama juga senantiasa menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia adalah hati yang sanggup mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri. Jika ia mencintai sesuatu maka cintanya itu pastilah karena Allah. Demikian pula bencinya kepada sesuatu hanyalah karena Allah. Jika ia memberi pastilah karena mengharap ridha Allah semata. Dan jika ia tidak memberi, itupun juga karena Allah. Ia adalah hati yang selalu hidup dan bergelora dengan berbagai amalan sunnah (nawafil) dalam kehidupannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. |
|
Baca selengkapnya
|
|
|
Ditulis oleh Muhammad Shaleh Drehem, Lc.
|
|
Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh namun jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih dari Nu’man bin Basyir) Para ulama mengibaratkan hati seperti panglima perang di tengah-tengah pasukannya. Apapun yang dilakukan oleh seluruh pasukan tergantung pada perintah sang panglima. Demikianlah hati manusia. Baik dan buruknya seorang manusia pertama kali ditentukan oleh kondisi hatinya. Jika hatinya baik insyaallah perilakunya juga baik. Sebaliknya, jika hatinya buruk maka perilakunya pun akan menjadi buruk. |
|
Baca selengkapnya
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 7 - 9 dari 9 |