Halaman Depan arrow Kajian arrow Puasa arrow Makna 選edul Fithri
logo
Makna 選edul Fithri
Ditulis oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA   

‘Iedul Fithri sebentar lagi segera hadir kembali sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan tahun 1427 Hijriyah ini, sebagaimana ia selalu hadir setiap tahun. Kaum muslimin pun tentu telah bersiap-siap dengan penuh kegembiraan dan keceriaan untuk menyambut dan merayakannya. Namun sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Iedul Fithri? Ini yang harus selalu menjadi bahan perenungan dan muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri) kita setiap saat, khususnya setiap kali kita berjumpa dengan ‘Iedul Fithri.

Syi’ar Allah

‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha adalah dua hari raya dalam Islam yang ditetapkan langsung oleh Allah sebagai pengganti hari-hari raya yang pernah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam datang (HR An-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban). Maka ‘Iedul Fithri – dengan demikian – merupakan salah satu hari dan syi’ar Allah yang harus kita sambut dan rayakan dengan sikap penuh rasa ibadah, pemuliaan dan pengagungan – dalam batas-batas koridor syar’i – sebagai bukti ketaqwaan hati kita. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu termasuk ketaqwaan hati” (QS Al-Hajj : 32). Dan sebaliknya kita tidak boleh mengagungkan hari-hari raya yang tidak termasuk syi’ar Allah dan tidak ada dalam ketentuan syariat Islam.

 

Hari Kegembiraan dan Perayaan

Semua kita bergembira dan bersuka ria saat menyambut ‘Iedul Fithri. Memang, dibenarkan dan bahkan disunnahkan kita merayakan ‘Idul Fithri dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggembirakan, termasuk misalnya dengan tampilan beragam permainan yang syar’i. Tapi yang perlu menjadi perenungan dan introspeksi kita adalah bahwa kegembiraan yang kita rasakan merupakan buah syukur kita kepada Allah yang telah mengkaruniakan taufiq kepada kita untuk mengoptimalkan pengistimewaan Ramadhan dengan amal-amal yang serba istimewa, dalam rangka menggapai taqwa. Dan bukan kegembiraan yang muncul karena merasa telah lepas dari Ramadhan yang disikapi sebagai bulan beban yang mengekang dan membelenggu!

 

Pembaharuan Deklarasi Tauhid

Dalam menyambut ‘Iedul Fithri, disunnahkan bagi kita untuk banyak mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid sebagai bentuk penegasan dan pembaharuan deklarasi iman dan tauhid. Itu berarti bahwa identitas iman dan tauhid harus selalu kita perbaharui dan kita tunjukkan, termasuk dalam momen-momen kegembiraan dan perayaan, dimana biasanya justru kebanyakan orang lalai dari berdzikir dan mengingat Allah.

 

Simbol Ukhuwah dan Persatuan

Puasa Ramadhan dan ‘Iedul Fithri adalah ibadah jama’iyah (kolektif), dimana semestinya seluruh kaum muslimim memulai puasa secara bersama-sama, mengakhirinya secara bersama-sama, dan bergembira dalam merayakan ‘Iedul Fithri juga secara bersama-sama, khususnya dalam satu wilayah tertentu. Tapi kaidah itu ternyata tidak mudah direalisasikan saat ini. Kita masih sering berbeda dan berselisih, termasuk kemungkinan besar dalam ber-‘Iedul Fithri tahun ini. Ini memang realita yang harus kita sikapi dengan arif dan hikmah. Namun kita semua patut berharap dan juga harus berusaha agar hendaknya suatu saat bisa dicapai kata sepakat antar organisasi dan tokoh umat Islam untuk menyatukan penentuan awal dan akhir Ramadhan, Iedul Fithri serta ‘Iedul Adha. Karena kita tidak menemukan contoh dalam sejarah Islam adanya perbedaan dalam berpuasa dan berhari raya dalam satu wilayah atau satu kampung, apalagi dalam satu rumah, sebagaimana terjadi saat ini. Yang pernah terjadi sejak masa sahabat hanyalah perbedaan antar wilayah yang berjauhan, seperti yang kita dapati dalam hadits Kuraib (HR Muslim, Ahmad dan lain-lain) dimana Ibnu ‘Abbas dan para sahabat di Madinah tidak mengikuti hasil ru’yah Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam. Dan jika saat ini ada sebagian kaum muslimin yang sangat bersemangat untuk mengikuti ru’yah secara global (ru’yah ‘alamiyah), hal tersebut memang ideal dalam tataran wacana. Namun dalam realitas, saat ini hal tersebut sangat tidak ideal, tidak logis, dan bahkan tidak syar’i, karena bagaimana mungkin kita bersatu dengan kaum muslimin di wilayah yang sangat jauh, semisal di Timur Tengah, namun kita justru berselisih dengan kaum muslimin yang ada di sekitar kita. Yang semestinya dilakukan adalah mengusahakan persatuan itu dimulai dari wilayah-wilayah yang terdekat untuk kemudian pada saatnya bisa mencapai persatuan seluruh dunia Islam.

Itulah beberapa diantara makna-makna ‘Iedul Fithri yang patut kita pahami dan kita hayati. Semoga ‘Iedul Fithri kali ini bisa benar-benar bermakna bagi kita semua.

 
< Sebelumnya
Copyright at KonsultasiSyariah.Net
Dipersilakan menyalin isi web dengan mencantumkan sumber dan penulisnya