Perceraian & Rujuk

Pernikahan & Keluarga, 5 September 2008

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Saya menikah Mei 2007. Mertua saya sudah bercerai sejak Januari 2001 silam. Alasan perceraian adalah Bapak Mertua saya tidak pernah memberi nafkah lahir (10 tahun), sering berselingkuh (sampai mendapat anak-anak), sering menjual harta yang didapat Ibu Mertua saya tanpa sepengetahuan, menggelapkan sertifikat orang, suka berhutang dan akhirnya yang membayar Ibu Mertua saya.

Bapak tidak bekerja, tetapi sering berselingkuh. Bila diberi modal untuk usaha, selalu habis untuk berfoya-foya. Dia menjual kerja keras Ibu mertua dan suami saya (rumah, mobil, motor, dll). Hingga yang tersisa 1 rumah setelah Bapak menceraikan Ibu.

Setelah perceraian, ibu dan suami saya kembali berusaha. Alhamdulilah Allah memberikan rizki, sehingga kekayaan keluarga kembali.

Setelah berada, Bapak Mertua saya datang menemui Ibu mertua saya bahkan menginap. Suami saya melarang karena bapak dan ibu sudah bercerai, tapi Ibu membela Bapak dengan alasan dia menjenguk anak-anaknya. Padahal anak-anaknya tidak disapa, dia hanya ingin bertemu Ibu. Bapak baru pergi setelah Ibu Mertua saya sering memberi uang, beras, dan lain-lain. Tetapi oleh Bapak Mertua saya diberikan kepada istri-istrinya yang lain (Hal itu sering dilakukannya).

Bapak masih sering menipu Ibu. Misalnya, rumah Bapak yang di desa mau diperbaiki adiknya. Adiknya memang memperbaikinya. Bapak meminta uang pembangunan, diberi oleh Ibu tetapi tidak diberikan kepada adiknya yang memperbaikinya. Mobil dan sepeda motor suami saya katanya dipinjam sebentar, tapi tak kembali-kembali. Setelah ditanya terus, akhirnya mengaku kalau barang-barang tersebut dijual.

Bagaimanapun kami sebagai anak, Idul Fitri tahun lalu, saya dan suami bermaksud memohon maaf pada Bapak. Dalam keadaan mengandung, jauh-jauh kami datang ke kosnya. Kami menjabat tangannya, beliau menampiknya dan bilang dia banyak kerjaan. Dia bilang ke semua orang, bahwa dia tidak menganggap, tidak mengakui suami dan kakak ipar saya sebagai anak. Yang penting Ibu mertua saya masih mengganggap dia sebagai suami, Bapak anak-anaknya.

Akhir Desenber 2007, menjelang kelahiran anak kami, Bapak bilang butuh uang 2 juta karena menabrak orang, keluarga korban menuntut uang tersebut agar tidak dilaporkan polisi. Dan berjanji 1 minggu kemudian uang tersebut dikembalikan. Ibu Mertua saya sedang tidak mempunyai uang dan dia sampai rela mau menggadaikan cincinnya agar mendapat uang tersebut, padahal hari itu sudah malam. Suami saya yang tidak tega melihat Ibunya merelakan uang biaya persalinan anak kami.

Janji untuk membayar hanya sekedar janji. Dan kami baru tahu dari saudara Bapak, bahwa itu hanya siasat bapak karena ia ditagih hutang. Selang 2 minggu, sehari sebelum anak kami lahir, Bapak datang lagi dan katanya dia sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa yang menolongnya. Dia minta diijinkan menginap karena dulu ini juga rumahnya. Setelah diijinkan Bapak sering mengundang orang datang ke rumah, tertawa terbahak-bahak, makan-minum semua yang ada, menganggap semua miliknya yang bisa dia pakai.

Suami saya sebagai anak sudah mengingatkan Ibu agar Bapak jangan terlalu lama, karena status Ibu yang sudah lama bercerai dengan Bapak, tetapi dia juga bimbang karena dia sebagai anak juga tidak tega. Akhirnya saya dan suami pun pindah ke luar kota, kakak ipar saya yang rumahnya dulu bersebelahan sekarang serumah dengan saya, karena tidak tahan dengan gunjingan tetangga.

Ibu dulu bilang tidak mau kembali, tapi kenyataanya kemanapun dia pergi selalu dikawal oleh Bapak. Mereka hidup layaknya suami istri, apalagi sekarang anak-anak mereka tidak tinggal serumah / bersebelahan. Bahkan Ibu menanggung, membayar hutang-hutang Bapak. Sedangkan waktu suami saya kesulitan usaha, minta tolong dipinjamkam uang sulit sekali.

Yang saya herankan kenapa Ibu selalu membela Bapak? Bagaimana pandangan islam mengenai hal ini? Apakah boleh seorang istri yang telah diceraikan suaminya kembali tanpa menikah terlebih dahulu? Mohon bantuan, apa yang sebaiknya saya perbuat ?

Terima kasih saya haturkan atas jawabannya.

-- Ari (Semarang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

Thalaq pertama dan kedua, disebut dengan " thalaq roj'i ", dalam arti si suami masih mempunyai hak untuk meruju' istrinya. Jika ruju'nya dilakukan sebelum habis masa 'iddah (3 bulan dari saat jatuhnya thalaq), maka tidak perlu ada proses akad nikah baru. Tetapi apabila ruju'nya dilakukan setelah lewat masa iddah, maka harus ada proses akad baru sebagaimana proses nikah pertama.

Untuk itu, dalam kasus Bapak ibu mertua yang sekarang berhubungan sebagaimana hubungan suami istri, maka jika ruju'nya telah dilakukan sebelum masa iddah, berarti halal hukumnya. Tetapi jika ruju'nya dilakukan setelah habis masa iddah dan tidak melalui proses akad sebagaimana proses nikah pertama (ada wali, dan dua saksi), maka hukumnya menjadi haram.

Dan jika yang terjadi sebagaimana yang kedua yaitu yang haram, maka kewajiban keluarga yang mengetahuinya adalah mengingkarinya dan menasihatinya dengan cara yang bijaksana, baik dilakukan sendiri atau meminta tolong kepada orang lain yang mungkin diperkirakan lebih dapat diharapkan hasilnya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu alaikum wr wb.

-- Agung Cahyadi, MA