Isteri Umroh Dgn Ibu Mertua

Haji & Umrah, 22 September 2013

Pertanyaan:

Isteri berniat umroh bersama Ibu Mertua, saya sebagai suami mengizinkannya.
Apakah umrohnya (isteri) tidak termasuk 'maksiat' jika perjalanan/ibadah umrohnya tidak disertai/ditemani suami?

Wassalamu a'laikum. Terima kasih.

-- Suyatna (Bogor )

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Dalam kaitan wanita yang safar, seperti haji atau umroh dengan tidak didampingi oleh seorang muhrim, hukumnya diperselisihkan oleh para ulama', perbedaan pendapat ulama' perihal tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Sebagian berpegang teguh pada dhahir hadits-hadits yang melarang, meskipun untuk menunaikan kewajiban haji. diantara hadits-hadits tersebut ialah   :

     لا تسافر المرأة الا مع ذي محرم  و لا يدخل عليها رجل الا و معها محرم       

     Tidak boleh seorang wanita bepergian kecuali bersama muhrim, dan tidak boleh seorang laki-laki msuk ketempat wanita  kecuali ia bersama muhrimnya   ( HR. Bukhori dan yang lainnya )

  1. Sebagian  mengecualikan  wanita tua yang sudah tidak mempunyai gairah seksual, sehingga diperkenankan untuk bepergian tanpa ada muhrim 
  2. Sebagian lagi memberikan pengecualian, apabila wanita tersebut safar bersama wanita-wanita lain atau laki-laki yang dapat dipercaya, maka boleh untuk bepergian tanpa muhrim ( Malikiyyah , Syafi’iyyah dan Hanabilah )
  3. Sebagian lain menganggap cukup dengan perjalanan yang aman, maka bila kondisi tersebut terjadi, diperbolehkan bagi seorang wanita untuk bepergian tanpa ada muhrim ( Ibnu Taimiyyah )

> Yang menjadi dasar diperbolehkannya wanita bepergian tanpa muhrim – apabila aman – atau  apabila bersama orang-orang yang dapat dipercaya  ialah  :

1.      Sabda  Rasulullah  saw  kepada  ‘Ady bin Hatim dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan yang lainnya :

... يا عدي  ان طالت بك حياة  لترين الظعينة في الهودج  ترتحل من الحيرة حتي تطوف بالكعبة  لا تخاف أحدا الا الله ...                                      

 ... Wahai ‘Ady, apabila anda punya umur panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita dalam haudaj (  tandu diatas unta ) pergi dari Hirah   ( salah satu kota dibawah kekuasaan raja Persia ) untuk thawaf di Ka’bah dalam keadaan tidak takut kepada seorangpun kecuali kepada Allah ...

( Imam Bukhori, kitab ke 61/kitab al-manaqib, bab ke 25/tanda-2 kenabian dalam Islam, hadits no.3595 )

Sabda Rasulullah saw tersebut tidak semata-mata menunjukkan akan terjadinya peristiwa itu, tetapi dalam rangka menggambarkan kondisi   aman yang  pasti akan terjadi, yang karenanya diperbolehkannya wanita pergi tanpa muhrim ( dalam  kondisinya aman ),  karena prinsip dalam hukum Mu’amalah ialah dengan melihat kepada maksud dan tujuan. Hal ini  berbeda dengan prinsip hukum ibadah/mahdhoh, yang prinsipnya adalah ta’abbudi/ibadah dan melaksanakan perintah, tanpa melihat makna dan tujuannya ( demikian Imam Asy-Syathibi memberikan argumentasi )

      >   Ibnu Taimiyyah

2.      Dalam Hadits Bukhori disebutkan :

أذن عمر رضى الله عنه لأزواج النبى صلي الله عليه و سلم  فى آخر حجة حجها

 فبعث معهن عثمان و عبد الرحمن بن عوف

bahwa Umar bin Al-Khattab pada hajinya terakhir telah mengizinkan istri-istri Rasulullah saw untuk menunaikan ibadah haji (tanpa muhrim), lalu Umar memerintahkan  Utsman bin ‘Affan dan Abdurrohman bin ‘Auf  untuk menyertai mereka dalam haji tersebut (Imam Bukhori, kitab ke 28/konskwensi  berburu, bab ke 26/hajinya wanita, hadits ke 1860)  >  Malikiyyah, Syafiiyyah dan dan riwayat dari Imam Ahmad

Jadi, ada yang melrang dan banyak ulama' mujtahidin yang memperbolehkan dengan cacatan sebagaimana tersebut diatas

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 

 



-- Agung Cahyadi, MA