Bedanya Roh, Jiwa (nafs), Akal Dan Qarin

Al-Qur'an, 14 Maret 2014

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum

Pak Ustadz saya mau bertanya mengenai yang dimaksud dengan Roh, Jiwa, Akal dan Qarin (pendamping) dalam pandangan Islam

1. Apakah perbedaan Roh dan jiwa?

2. Jika jiwa (nafs) seseorang terbawa kepada keburukan apakah hasil dari bisikan Qarinnya atau memang dari jiwa manusia itu sendiri yang membawa manusia itu terhadap keburukan?

3. Atau akal kah yang membuat jiwa berbuat, tergantung dari apa yang manusia itu pikirkan?

4. Atau Qarin kah yang menanamkan sugesti negatif kepada akal manusia dan ditransfer oleh akal kedalam jiwa sehingga jiwa jadi kotor?

Mohon pencerahannya pak Ustadz!

sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam,

Farrel Alfarisi/Ronald Cameron


-- Farrel Alfarisi (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwn

Ruh atau dalam bahasa kita disebut " nyawa ", adalah sesuatu ghaib yang dengannya manusia bisa hidup< Allah berfirman yang artinya ; " Dan mereka bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang ruh, Katakanlah " ruh itu urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanyalah sedikit " ( QS. 17:85 )

Adapun jiwa/ nafsu adalah potensi yang Allah berikan kepada setiap manusia yang memotivasi kita untuk bertindak, yang karakternya adalah senantiasa mendorong kita untuk berbuat buruk, Allah berfirman : " Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungghnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan ... " ( QS 12:53 )

Sedangkan qorin, adalah jin yang senantiasa menyertai kita semenjak lahir hingga mati, yang membisik-bisikkan untuk berbuat jahat, sehingga dalam diri kita ada qorin yang senantiasa membisikan kejahatan dan nafsu yang juga senantiasa mendorong untuk berbuat buruk, yang karenanya diperlukan upaya optimal untuk bisa membendung bisikan dan dorongan jahat tersebut

Pada akhirnya akan tergantung pada hati dan akal kita, mampukah menundukkan dan mengendalikan nafsu tersebut agar taat kepada Allah dan mengabaikan bisikan qorin tersebut. yang karenanya diperlukan pembekalan diri secara berkesinambungan, agar kita mempunyai bekal yang cukup melawan musuh internal kita tersebut, Rasulullah bersabda : " Seorang mujahid/pejuang adalah yang mampu berjihad untuk menundukkan nafsunya agar taat kepada Allah " ( HR. Bukhari dan Muslim )

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

-- Agung Cahyadi, MA