Suap Dan Hadiah

Sosial & Politik, 11 Desember 2015

Pertanyaan:

Ass...Ustd.
tolong di jelaskan perbedaan antara suap dengan balas budi/hadiah.

-- Khairuddin (Banjarmasin)

Jawaban:

 

Wa'alaikumussalaam wrb.

Perbedaan antara hadiah dan suap:

Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

تهاد وتحابوا 

Rasulullah bersabda, “Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling simpati dan mencintai” [HR Malik dalam al Muwatha’].

لو أهدى إلي ذراع أو كراع لقبلت

Beliau juga bersabda, “Andai aku diberi hadiah berupa hasta kambing atau kaki kambing niscaya akan kuterima” [HR Bukhari]

Hadits pertama di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin dianjurkan untuk saling memberi hadiah karena hadiah itu memiliki faedah adanya kedekatan hati di antara kaum muslimin dan menghilangkan hasad atau iri dengki dari hati.

Sedangkan hadits kedua menunjukkan tidak sepatutnya menolak hadiah meski nilai hadiah tersebut remeh.

Anjuran di atas tidaklah berlaku untuk hakim atau orang semisalnya [baca: pejabat negara], itulah orang orang yang sama sekali tidak boleh diberi hadiah dalam rangka antisipasi terjadinya suap. Nabi bersabda, “Allah itu melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap dalam peradilan” [HR Ahmad dan empat kitab sunan, dinilai hasan oleh Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban].

Hadiah itu haram diterima sehingga orang yang menerima hadiah berhak mendapatkan ancaman dalam dua kondisi:

Pertama, hadiah tersebut adalah kompensasi dari kewajiban yang seharusnya dijalankan oleh penerima hadiah [baca: uang tips dll]

Kedua, hadiah tersebut berkonsekuensi penerima hadiah harus melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh penerima hadiah.

Hadiah dalam dua kondisi di atas tergolong suap yang hram hukumnya

Demikian, semoga senantiasa berkenan untuk membeimbing ke jalan yang dirihoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA