Cara Rujuk Talak Tiga

Pernikahan & Keluarga, 7 Agustus 2016

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Perkenalkan nama saya Fariz Ubaidillah Rasyid, 24 Tahun beragama Islam

Infaq untuk konsultasi darurat sudah ditransfer melalui bank BCA a.n Fariz Ubaidillah Rasyid sejumlah RP. 200.000,00

Saya ingin berkonsultasi tentang beberapa hal terkait pernikahan saya yang saya khawatirkan. Sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu kondisi saya. Saya menikah dengan kondisi istri saya hamil lebih dulu karena zina, kemudian saya dan istri saya bertaubat untuk kembali ke agama secara sepenuhnya dan menikah atas restu orang tua. Saat sebelum menikah, kami sudah menanyakan rukun nikah dengan kondisi hamil karena zina dan ada pendapat yang menyatakan diperbolehkan untuk menikah sebelum masa iddah karena wanita yang hamil oleh zina tidak memiliki masa iddah. Keputusan tersebut diambil atas kesepakatan seluruh keluarga kami. Setelah pernikahan terjadi, kami kembali menjauh dari agama dikarenakan iman kami yang belum kuat dan mental kami yang masih kekanakan. Saya pribadi tidak menjalankan kewajiban saya sebagai suami untuk menafkahi keluarga karena status saya yang masih berkuliah. Selama masa perkuliahan saya, istri saya terus menemani saya dan meminta saya untuk paling tidak membantu merawat anak namun saya abaikan dengan alibi bahwa saya masih ingin fokus menyelesaikan kuliah saya. Hal itu berulang kali menyebabkan terjadinya pertengkaran dan seringkali saya lari dari tanggung jawab saya dengan pergi dari rumah dan menginap di tempat lain. Setelah saya lulus dari kuliah, saya bertekad untuk kembali ke jalan yang benar dengan memperbaiki hubungan saya dengan anak istri, mencari kerja, dan kembali ke agama. Namun dikarenakan nilai saya jelek saya sulit untuk mendapatkan pekerjaan sehingga saya menghabiskan waktu saya dengan les dan olahraga sementara istri saya bekerja. Situasi pun berbalik menjadi istri saya yang tidak punya waktu akan keluarga dikarenakan pekerjaannya dan sulit untuk sekedar saya suruh solat. Hingga titik dimana saya merasa dilecehkan dan tidak dihargai dengan pernyataan yang keluar dari istri saya yang bunyinya "Kamu tuh bisa ga sih ga cuman habisin uang?aku sama (nama anak) butuh kamu nafkahin,cepetlah cari kerja heran dirumah doang ngapain duitnya abis terus". Jujur saya merasa terhina, namun saya pendam semua sendiri dan saya rasa ucapan istri saya ada benarnya. Kemudian alhamdullillah di bulan Januari 2016 saya mendaptakn pekerjaan.Saya pun masih terus berusaha untuk membujuk istri agar mau solat dengan rajin. Namun memang karena kemampuan manajemen uang yang buruk saya tidak memberi nafkah kepada istri hingga bulan Juni 2016, sekalipun memberi saya minta lagi dalam bentuk uang bensi dan uang makan dimana seharusnya uang saya cukup untuk menafkahi dan menghidupi keluarga. Hanya saja saya tidak senang dengan sikap istri saya yang terlalu fokus dengan hal duniawi seperti uang sehingga lagi-lagi saya memilih kabur dan berbohong kepada istri saya namun akhirnya ketauan. Hal itu membuat semua luka lama terkuak kembali dan saya saat itu sudah tidak tahan dan menyatakan ingin pisah dengan niat cerai. Kemudian setelah saya nyatakan pisah dengan niat cerai, kami berhubungan badan dan istri saya meminta saya untuk memperbaiki diri. Selang 3 hari, saya tidak bisa melihat diri saya bisa untuk memperbaiki diri dan kembali meminta cerai. setalah itu istri saya meminta saya untuk memulai lg dari awal dan saya memilih untuk pisah rumah dan mencari hal terbaik dari satu sama lain. Selang 7-8 hari saya memutuskan untuk kembali rujuk karena tidak tahan akan ketidak jelasan hubungan, namun setelah saya bertemu dan berhubungan badan dengan istri saya muncul rasa bersalah karena saya sadar saya kehilangan rasa cinta saya dan saya nyatakan kepada istri saya yang akhirnya kembali meminta pisah. Kemudian orang tua san dan dia bertemu untuk menanyakan apa permasalahannya dan tidak ada yang melihat bahwa alasan saya valid untuk meminta pisah. Dengan kondisi saya emosi saya menyatakan bahwa saya tidak bisa melanjutkan hubungan dia, namun sesaat kemudia saya sadar bahwa saya yang khilaf dan meminta rujuk kembali.

Pertanyaan saya

1. Apakah pernikahan saya sah atau tidak secara agama?
2. Apakah yang saya lakukan kepada istri saya sama dengan menalak tiga?jika tidak kenapa jika iya apa yang sebaiknya saya lakukan?
3. Jika pernikahan saya sah dan saya terlanjur menalak tiga, apa bisa saya menganggap pernikahan saya tidak sah dan memperbarui ikrar saja?

Pertanyaan ini muncul karena keinginan saya untuk menjalani kehidupan saya dengan benar secara gama untuk kedepannya. saya ingin bertobat dan tidak ingin melakukan kesalah yang sama, karena itu muncul kekhawatiran akan sesuatu hal yang tidak bisa saya mengerti karena minimnya pengetahuan agama saya. Sekian penjelasan saya. Besar harapan saya agar saya mendapat jawaban yang dapat menenangkan hati saya secepatnya. Terima kasih atas waktunya.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

-- Fariz Ubaidillah (Bekasi)

Jawaban:

WSWRWB..
Maaf saudaraku karena banaknya pertanyaan...baru kali oini bisa kami jawab..semoga jawaban ini ada manfaatnya dan semoga ALLAH selalu meerahmati anda sekeluarga.

Jika seorang suami menceraikan istrinya dengan cerai satu atau dua maka sang suami berhak untuk melakukan rujuk dengan istri, selama masih masa iddah, baik istri ridha maupun tidak ridha. Namun, jika talak tiga sudah jatuh maka suami tidak memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai sang istri dinikahi oleh lelaki lain. Allah berfirman,

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Jika dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sampai dia menikah dengan lelaki yang lain ….” (Q.S. Al-Baqarah:230)

Pernikahan wanita ini dengan lelaki kedua bisa menjadi syarat agar bisa rujuk kepada suami pertama, dengan syarat:

Pertama: Dalam pernikahan yang dilakukan harus terjadi hubungan badan, antara sang wanita dengan suami kedua. Berdasarkan hadis dari Aisyah, bahwa ada seorang sahabat yang bernama Rifa’ah, yang menikah dengan seorang wanita. Kemudian, dia menceraikan istrinya sampai ketiga kalinya. Wanita ini, kemudian menikah dengan lelaki lain, namun lelaki itu impoten dan kurang semangat dalam melakukan hubungan badan.

Dia pun melaporkan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan harapan bisa bercerai dan bisa kembali dengan Rifa’ah. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu ingin agar bisa kembali kepada Rifa’ah? Tidak boleh! Sampai kamu merasakan madunya dan dia (suami kedua) merasakan madumu.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, dan At-Turmudzi)

Yang dimaksud “kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu” adalah melakukan hubungan badan.

Kedua: Pernikahan ini dilakukan secara alami, tanpa ada rekayasa dari mantan suami maupun suami kedua. Jika ada rekayasa maka pernikahan semacam ini disebut sebagai “nikah tahlil“; lelaki kedua yang menikahi sang wanita, karena rekayasa, disebut “muhallil“; suami pertama disebut “muhallal lahu“. Hukum nikah tahlil adalah haram, dan pernikahannya dianggap batal.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Nikah muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umumnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i.” (Al-Mughni, 7:574)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang menjadi muhallil dan muhallal lahu. Dari Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu.” (H.R. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Bahkan, telah termasuk tindakan “merekayasa” ketika ada seorang lelaki yang menikahi wanita yang dicerai dengan talak tiga, dengan niat untuk dicerai agar bisa kembali kepada suami pertama, meskipun suami pertama tidak mengetahui.

Ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ada seseorang datang kepada beliau dan bertanya tentang seseorang yang menikahi seorang wanita. Kemudian, lelaki tersebut menceraikan istrinya sebanyak tiga kali. Lalu, saudara lelaki tersebut menikahi sang wanita, tanpa diketahui suami pertama, agar sang wanita bisa kembali kepada saudaranya yang menjadi suami pertama. Apakah setelah dicerai maka wanita ini halal bagi suami pertama? Ibnu Umar memberi jawaban, “Tidak halal. Kecuali nikah karena cinta (bukan karena niat tahlil). Dahulu, kami menganggap perbuatan semacam ini sebagai perbuatan zina di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (H.R. Hakim dan Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Allahu a’lam.




-- Selamet Junaidi