Perjodohan Didalam Islam

Pernikahan & Keluarga, 11 Agustus 2016

Pertanyaan:

Assalamualaikum,
saya seorang perempuan berusia 24 thn, akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang lelaki rekan kerja saya, saya merasa jatuh hati pada beliau dan sepertinya beliau juga begitu,melihat tingkah beliau yg ingin mengenal saya lebih dekat, tapi akhir-akhir ini beliau terlihat sedih, ketika saya tanyakan apa penyebabnya, ternyata beliau ingin dijodohkan dengan anak dari paman(adik dari ibu) beliau, beliau tidak terima dijodohkan tapi juga tidak bisa menolak keinginan orang tuanya... karna orang tua beliau juga sudah renta dan mulai sakit-sakitan... jadi yg ingin saya tanyakan bagai mana cara islam menyikapi masalah ini, haruskah perempuan itu dinikahi walaupun beliau tidak menginginkan pernikahan ini?? bagai mana cara yg baik didalam islam untuk menolak perjodohan? dan bagaimana cara menghilangkan kekecewaan??...mohon pencerahannya... terimakasih... Wassalamualaikum... wr...wb

-- Amie (Subulussalam)

Jawaban:

WSWRWB
Saudari Amie yang dirahmati ALLAH

. Harus direnungkan dahulu hadits RasuluLLAH SAW;

عن أبي سعيد الخدري أن رجلا أتى بابنة له إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إن ابنتي قد أبت أن تتزوج قال فقال لها أطيعي أباك قال فقالت لا حتى تخبرني ما حق الزوج على زوجته فرددت عليه مقالتها قال فقال حق الزوج على زوجته أن لو كان به قرحة فلحستها او ابتدر منخراه صديدا أو دما ثم لحسته ما أدت حقه قال فقالت والذي بعثك بالحق لا اتزوج ابدا قال فقال لا تنكحوهن إلا بإذنهن

Dari Abu Said al-Khudri, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa putrinya. Orang ini mengatakan, “Putriku ini tidak mau menikah.” Nabi memberi nasihat kepada wanita itu, “Taati bapakmu.” Wanita itu mengatakan, “Aku tidak mau, sampai Anda menyampaikan kepadaku, apa kewajiban istri kepada suaminya.” (merasa tidak segera mendapat jawaban, wanita ini pun mengulang-ulangi ucapannya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kewajiban istri kepada suaminya, andaikan di tubuh suaminya ada luka, kemudian istrinya menjilatinya atau hidung suaminya mengeluarkan nanah atau darah, kemudian istrinya menjilatinya, dia belum dianggap sempurna menunaikan haknya.”

Spontan wanita itu mengatakan: “Demi Allah, Dzat yang mengutus Anda dengan benar, saya tidak akan nikah selamanya.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada ayahnya, “Jangan nikahkan putrimu kecuali dengan kerelaannya.” (HR. Ibn Abi Syaibah no.17122)

Bahkan jika orang tua memaksa dan anak tidak ridha kemudian terjadi pernikahan, maka status kelangsungan pernikahan dikembalikan kepada anaknya. Jika si anak bersedia, pernikahan bisa dilanjutkan, dan jika tidak maka keduanya harus dipisahkan. Di antara dalilnya adalah

عن ابن عباس رضي الله عنهما ” أن جارية بكراً أتت رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة , فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم “

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad 1:273, Abu Daud no.2096, dan Ibn Majah no.1875)

Berarti dia boleh menolak dengan cara ang sebaik-baiknya bila dia tidak rido dengan perjodohan ini.
Untuk mengatasi kekeewaan , Tanamkan dihati bahwa apa ang kita sukai belum entu baik buat kita dan apa yang kita benci belum tentu buruk bagi kita. sebagaiman firman ALLAH dalam surah AL Baarah: 216
Allahu a’lam

-- Selamet Junaidi