Judi Atau Bukan

Lain-lain, 5 Januari 2017

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum....
saya suka berolahraga, terutama futsal dan badminton, namun akhir akhir ini saya merasa saya seperti berjudi. dimana yang kalah harus membayar sewa lapang, atau yang kalah harus membayar shutlecock. Namun tidak menambahkan membayar uang lebih dari yang kalah kepada yang menang, ataupun membayarkan minuman yang menang. Apakah itu merupakan judi ? mohon penjelasannya.

satu lagi, bagaimana hukumnya jika saya melihat pertandingan yang ada unsur judinya, meski saya tidak ikut berjudi ?

Terimakasih !

-- Diki Sulaeman (Tasikmalaya)

Jawaban:

Wswrwb
Saudaraku yang dirahmati ALLAH SWT

Jika uang yang digunakan mentraktir hanya dari pihak yang kalah, sementara pihak yang menang tidak mengeluarkan uang sama sekali, maka aktivitas di atas secara syar’i dibolehkan dan tidak termasuk judi.

Sebab aktivitas di atas termasuk apa yang dalam fiqih disebut ji’alah, yaitu suatu janji memberikan kompensasi materi (harta) yang tertentu untuk suatu perbuatan (jasa) tertentu. . Contoh ji’alah misalkan seseorang mengumumkan kepada publik,”Barangsiapa dapat mengembalikan ijazahku yang hilang, saya beri uang Rp 5 juta.”

Ji’alah sebagaimana boleh ditujukan kepada publik, juga boleh ditujukan untuk orang atau pihak tertentu (ibid., IV/785). Misalkan seorang bapak berkata kepada anaknya,”Jika kamu dapat menghapal 1 juz al-Qur`an, kamu saya beri Rp 1 juta.”

Nah, aktivitas yang ditanyakan di atas termasuk dalam ji’alah ” tidak termasuk judi.

Adapun bila ada pertandingan tapi penontonnya memanfaatkan pertandingan itu itu untuk berjudi.. maka penonton lain yang tidak ikut berjudi tidak mengapa menonton pertandingan itu.

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi