Lupa Niat Dan Redaksi Dalam Memberi Peringatan Kepada Istri

Pernikahan & Keluarga, 2 Agustus 2017

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh...

Ustadz yang dirahmati Allah,

Perkenankan saya untuk mengajukan 2 pertanyaan...

Pertanyaan pertama:

Beberapa hari ini seperti ada sebuah ingatan yang samar-samar dalam pikiran saya. Kejadian ini diawali oleh peristiwa cekcok yang mendera rumah tangga saya dan istri...beberapa bulan yang lalu...

Awal kejadiannya adalah karena bapak mertua saya (ortu istri) bermaksud untuk 'numpang' tinggal di rumah kami (yang notabene rumah dinas) tanpa seizin saya selaku suami.

Saya kaget, karena waktu itu (ba'da maghrib) mertua saya tiba-tiba datang dan langsung masuk seperti masuk rumahnya sendiri. Saya diam awalnya karena saya kira beliau mau menginap saja semalam. Lalu, ketika mertua saya sedang keluar 'cari angin', istri saya bilang ke saya apakah diizinkan untuk membeli gantungan baju untuk mertua saya (karena mau 'numpang' di rumah kami).

Lalu saya bilang bahwa saya akan izin dulu ke pimpinan lembaga tempat saya bekerja untuk menampung mertua saya (ini hanya alasan saja kepada istri untuk menjaga perasaannya, karena sebenarnya saya tidak mengizinkan mertua saya untuk ikut kami karena akhlaq-nya ada yang kurang baik, yaitu suka berhutang---dalam beberapa kasus terbukti berhutang riba---yang seperti sudah jadi kebiasaan dan melanggar privasi saya).

Namun, istri saya mengatakan bahwa dia sudah lebih dulu izin kepada pimpinan lembaga---mendahului saya tanpa izin dari saya--lalu, karena kesal, saya men-takliknya dengan ucapan, "Kalau bapakmu (mertua saya) gak pulang malam ini, kita cerai aja." Akhirnya kami menghadap pimpinan lembaga pada malam itu juga (karena bapak mertua saya datang pada saat maghrib) dan setelah menghadap, langsung bapak mertua saya pulang.

Besoknya, saya memberikan peringatan keras kepada istri saya karena sudah berulangkali dia suka ambil keputusan sendiri (mungkin karena kami masih baru berumahtangga, baru 2 tahun lebih sedikit waktu itu), namun saya lupa dua hal:

A. Redaksi

Saya tidak ingat secara pasti apakah saya mengatakan, "Kalau kamu gak mau dikasih tau..." atau "Kalau kamu susah dikasih tau..." atau "Kalau kamu gak nurut sama aku..." sebagai kalimat pembuka.

Lalu, saya menambahkan kalimat sebagai lanjutan dari kalimat pembuka tadi, hanya saja saya tidak mengingatnya secara pasti apakah saya mengatakan, "...Kamu keluar aja dari rumah ini.", atau, "Kamu keluar aja dari keluarga ini."

B. Niat

Saya tidak ingat secara pasti apakah saya niat talak ataukah hanya niat mengeluarkan ancaman saja (tanpa niat talak) ketika mengucapkan kalimat tadi.

Lantas, bagaimanakah status pernikahan kami, Ustadz? Saya takut terjadi talak...karena beberapa kali istri saya melanggar beberapa nasihat saya... entah karena pusing atau lupa...apalagi kami waktu itu sedang diuji cukup berat oleh Allah melalui gangguan sihir yang dikirimkan kepada kami lewat orang yang tidak bertanggungjawab... dan saya merasa gangguan sihir itu sudah mengurangi kemampuan kami dalam berpikir sadar dan bertindak rasional serta maslahat...

Pertanyaan Kedua:

Saya tertimpa was-was selama hampir 4 bulan ini... sehingga saya sulit berpikir dan mengendalikan emosi dan perkataan. Kemarin (1 Agustus 2017) saya berniat untuk konsultasi pernikahan ke KUA di daerah saya tinggal. Sebelum berangkat kerja, saya berlatih mengatur kata-kata di depan cermin sebagai persiapan agar maksud saya tersampaikan dengan jelas (karena seringkali saya grogi dan sulit berkata-kata).

Saya bermaksud berkonsultasi mengenai persoalan yang saya tulis di "Pertanyaan pertama". Pada saat di depan cermin saya berkata (sebagai latihan), "...waktu itu saya pernah men-takliknya ,Pak. Saya mengatakan 'kalo bapakmu malam ini gak pulang, kita cerai'..."

Saya terdiam. Ingat bahwa itu kalimat sharih... langsung was-was mendera saya kembali... sampai hari ini...

Apakah talak sudah terjadi Ustadz? Padahal saya tidak berniat begitu. Saya hanya berniat untuk latihan menyampaikan persoalan saya...

Saya tidak pernah mau menceraikan istri saya karena sekarang dia sudah berubah. Sekarang sudah berubah menjadi penurut, rajin dan selalu berdiskusi dengan saya dalam masalah apapun. Saya merasakan perubahan ini setelah Bulan Ramadhan kemarin Ustadz... terlebih, alhamdulillaah, Allah mengarahkan kami juga untuk menjadi semakin relijius (maaf, bukan bermaksud riya Ustadz)...

Terlebih, dia sudah mulai terlihat menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan maksimal...sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Rasul-Nya...

Mohon pencerahan dari Ustadz...mohon maaf jika surat saya terlalu panjang...

Terima kasih.

Jazaakumullaahu ahsanal jazaa...

 



-- Abdullaah (Sukabumi)

Jawaban:

وعليكم السلام و رحمة الله وبركاته

Saudara ABDULLAH yang dirahmati ALLAH.

Sungguh indah perjalanan anda dan karunia ALLAH yang harus anda syukuri hingga apa yang anda rasakan sekarang.

Semua perjalanan anda yang lalu jangan terus dikenang seperti alur cerita yang sudah anda sampaikan dengan rinci. Anda boleh melihat masa lalu sebentar saja dan itu bila perlu seperti melihat  kaca sepion . Masa lalu dilihat bukan untuk menghantui kita sehingga resah, was-was dll. Tapi untuk meningkatkan kwalitas hidup yang sekarang

Nah sekaranga keluarga anda semakin baik maka:

1. Selalu bersyukur kepada ALLAH SWT 

2. Anda harus lebih tenang dan jangan gampang emosi sehingga anda tidak mudah mengeluarka ucapan yang bisamenjadi bumerang bagi anda sendiri.

3. Anda dengan tulus memohon maaf kepada istri anda dengan berbagai perkataan yang pernah anda lontarkan.

4. Jangan selalu  memandang negatif apa yang diputuskan istri anda yang tanpa musyawarah dengan anda karena mungkin ia merasa anda pasti setuju karena ini adalah kebaikan. Beri toleransi pada istri anda. Kalaupun anda harus menegurnya, tegur dengan bijak tanpa harus dengan syarat talak atau cerai.

5. Yang anda rasakan sebelum ini adalah was-was dari syaitan, perbanyaklah membaca doa-doa perliindungan.

Semoga ALLAH selalu memberi penjagaan dan rahmatNYA kepada anda sekeluarga.

WaLLAHU a'lam

 



-- Selamet Junaidi