Hukum Bekerja Bersama Dokter Hewan

Lain-lain, 19 Agustus 2017

Pertanyaan:

assallamu'alaikum ustadz, saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya bekerja di sebuah istansi dan di tempatkan di bagian puskeswan (pusat kesehatan hewan), yang dimana istri saya berada di bagian tersebut. Namun istri saya bukan seorang dokter hewan melainkan hanya sebagai administrasi saja. Terkadang dokter hewannya sering meminta tolong istri saya untuk memegang anjing dari pasien untuk di suntik atau di operasi. Namun istri saya berkata bahwa mereka berkerja dengan kondisi steril dan menggunakan sarung tangan saat memegang hewan dari pasien. Lalu kata istri saya setiap habis menyuntik atau mengoperasi anjing, dia selalu mencuci tangannya dengan tanah karena khawatir ada najis yang tertinggal di tangannya. Bagaimana menurut pak ustadz? dalam kondisi seperti ini bolehkah istri saya memegang anjing walaupun dengan sarung tangan karena niatan dia memang ingin membantu agar hewan tersebut sembuh dari penyakitnya? apalagi dia hanya berani memegang ketika di perintahkan oleh atasannya & tetap menggunakan sarung tangan.



-- Reza Sukmana (Ketapang - Kalbar)

Jawaban:

Wassamualkum wr wb

Saudara Reza Sukmana yang diramati ALLAH SWT

Maasya ALLAH, istri anda sudah melakukan yang tepat dan benar. Silahkan perkerjaannya diteruskan.

Renungkan hadits berikut ini yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Ketika seorang lelaki berjalan dalam sebuah perjalanan dia merasa sangat kehausan lalu dia mendapati sebuah sumur. Dia turun ke sumur itu lalu minum dan setelah itu keluar. Saat itu, tiba-tiba dia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya menjilat debu karena sangat haus. Si lelaki itu berkata, “Anjing ini sangat kehausan sebagaimana yang telah aku rasakan.” Lalu dia turun lagi ke sumur, dia memenuhi salah satu sepatunya dengan air lalu dia menggigitnya dengan mulutnya (sehingga bisa naik-red) dan memberikan minum kepada anjing tersebut. Kemudian Allâh Azza wa Jalla berterima kasih kepadanya (maksudnya Allâh menerima amal perbuatan orang ini-red) dan Allâh Azza wa Jalla mengampuni dosanya. Para shahabat Radhiyallahu anhum bertanya, “Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apakah kita akan mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang ternak ?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, pada (pemeliharaan terhadap) setiap yang bernyawa ada pahala.”


 WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi