Makna Riwayat Aisyah

Pernikahan & Keluarga, 21 Agustus 2017

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb., Ustadz, saya ingin menanyakan mengenai makna dari riwayat yang menceritakan tentang Aisyah yang pernah bertanya kepada Rasulullah : "Siapakah yang memiliki hak terbesar atas seorang istri? " dan Rasulullah menjawab "Suamimu!". Lalu Aisyah kembali bertanya " Siapakah yang memiliki hak terbesar atas seorang suami?" dan Rasulullah menjawab "Ibunya!"

Ustadz, pertanyaan saya adalah :

1. Apakah makna dari riwayat tersebut adalah seorang istri tidak boleh menyampaikan sarannya kepada suami apabila terjadi permasalahan dalam rumah tangga? Karena berdasarkan riwayat tersebut hak suami adalah ibunya, jadi segala masalah rumah tangga suami saya lebih memilih untuk mendengarkan saran ibunya.

2. Apakah makna dari riwayat tersebut adalah dalam rumah tangga, ibu suami saya boleh ikut campur dalam rumah tangga kami? Bahkan untuk pembelian hewan kurban saja suami saya tidak pernah mengajak saya berdiskusi tapi lebih memilih saran ibunya untuk berkurban dimana, padahal rumah tangga kami adalah terdiri dari kami (suami dan istri), apakah riwayat tersebut mengatur sampai sejauh itu ustadz?

3. Apakah makna dari riwayat tersebut adalah artinya segala kepentingan ibu dari suami saya adalah nomer satu? Sehingga apabila saya minta untuk dapat diantarkan ke kantor dan ibunya minta untuk diantarkan ke tempat pengajian, maka hal yang paling utama adalah mengantar ibunya?

Mohon penjelasannya ustadz, karena menurut saya ibu dari suami saya sudah terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga saya dengan suami saya, dan suami saya selalu berdalih dengan menggunakan riwayat tersebut.

Terima kasih

Wassalamualaikum wr. wb.



-- Delia (Jabodetabek)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bu Delia yang dirahmati ALLAH SWT

Hadits RasuluLLAH saw. itu benar yang akan mengarahkan sikap benar seorang istri kepada suaminya dan sikap benar seorang istri kepada suaminya dijamin Syurga oleh ALLAH SWT, sebagaimana sabda RasuluLLAH saw;

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)

SubhanaLLAH, inilah program utama seorang istri bila ridla dan taat kepada suaminya walaupun tidak menutup kemungkinan ada sajalah kekurangan atau kekhilapan seorang suami.

Selama suami tidak mengajak maksiat usahakan anda senang mengikuti sikap dan arahan suami.

Bila suami anda tidak mengajak anda membicarakan masalah qurban dengan anda, maka ambil positifnya karena anda sudah ada tugas lain sehingga suami anda tidak ingin memberatkan anda.maaf. Anda bisa bisamelakukan hal lain. 

Kalau masalah keluarga sebenarnya menjadi Tanggungjawab suami dan istri. Semua dalam proses, bila ada kekurangan maka suami istri harus saling melengkapi dan menopang. 

Semoga anda semakin belajar bijak dan menahan emosi terkadang ada hak kita harus ditunda dalam meraihnya. Bersabar untuk menahan diri sehingga sampai pada waktu yang tepat.

Semoga Anda menjadi istri sholehan yang dirindukan syurga

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi