Bisakah Orang Muslim Yang Bunuh Diri Keluar Dari Neraka?

Fiqih Muamalah, 27 September 2017

Pertanyaan:

Kepada Yth Konsultasi Syariah

Saya punya pertanyaan tentang bunuh diri. Saya memiliki sahabat yang telah wafat karena bunuh diri, dan saya tahu hukuman untuk mereka yang bunuh diri adalah neraka. Berdasarkan hadits nabi yang pernah saya baca, kaum muslim yang bunuh diri akan tinggal di neraka untuk selamanya. Namun Al-Quran menyatakan Allah SWT akan memaafkan semua dosa kecuali syirik dan dalam sebuah hadis nabi juga menyatakan siapapun yang percaya dengan kalimat tauhid akan di keluarkan dari neraka. Dalam dalam situs islamqa.info saya lihat fatwa yang menyatakan kaum muslim yang bunuh diri ada harapan untuk keluar dari neraka selama mereka percaya dengan kalimat tauhid. Yang ingin saya tanyakan

 

1. Bolehkah mendoakan kaum muslim yang wafat karena bunuh diri ?

2. Mungkinkah kaum muslim yang wafat karena bunuh diri akan keluar dari neraka sama seperti umat islam yang berdosa ?

 

Demikian yang dapat saya sampaikan.



-- Muhammad Ibnu Adam (Banda Aceh)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

1. Boleh dan tetap diperintahkan untuk mensholatkan orang muslim yang bunuh diri, kecuali pemimpin.

Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan :

“Umat Islam bersepakat bahwa orang yang melakukan dosa meskipun melakukan dosa besar tetap dishalatkan. Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa beliau diriwayatkan bersabda  "

صلوا على كل من قال لا إله إلا الله محمد رسول الله

“Shalatkanlah setiap orang yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallahu Muhammad Rasulullah" (Al Istidzkar, 3: 29)

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

“Al Qadhi mengatakan, menurut pendapat para ulama, setiap jenazah muslim baik meninggal karena suatu hukuman, dirajam, bunuh diri dan anak zina tetap dishalatkan. Imam Malik dan lainnya berpendapat bahwa pemimpin umat sebaiknya tidak menyalati orang seperti itu ketika ia dihukum mati karena suatu hukuman. Dari Az Zuhri, ia berkata bahwa orang yang terkena hukuman rajam dan yang diqishash tetap dishalatkan. Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang berbuat keonaran dan orang yang terbunuh dari kalangan kelompok pembangkang tidak dishalatkan.” (Lihat Syarh Muslim karangan Nawawi)

Dalil yang menunjukkan akan kewajiban shalat kepada pelaku kemaksiatan adalah apa yang diriwayatkan oleh Samurah radhiyallahu anhu,

أَنَّ رَجُلا قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَّا أَنَا فَلا أُصَلِّي عَلَيْه

Ada orang yang bunuh diri dengan pisau, maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “ Adapun saya, maka saya tidak shalatkan dia.” (HR. An Nasa’i no. 1964 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Nampaknya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyetujui para sahabat yang menyalatinya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam enggan menyalatinya sebagai hukuman terhadap kemaksiatannya dan sebagai pelajaran bagi orang lain atas perbuatannya.

Ini menunjukkan dianjurkannya menyalatkan pelaku maksiat kecuali pemimpin umat, Seyogyanya dia tidak menyalatkan pelaku dosa besar yang terus menerus dan mati dalam kondisi seperti itu. Hal ini dilakukan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya yang lain jera dan tidak melakukan semacam itu.

2. Setiasp muslim berpotensi untuk masuk surga meskipun berdosa besar, kecuali yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan makhluq-Nya

( lihat QS. 4:48 dan 116)

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenaan memberikan petunjuk kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.





-- Agung Cahyadi, MA