Apakah Jatuh Talaq

Pernikahan & Keluarga, 21 Oktober 2017

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr wb, ustadz, seorang kakak saya menghadapi masalah berikut: Ia merasa diperlakukan kurang dihargai, bahkan sering disakiti oleh suaminya, ia mau minta cerai saja tetapi suaminya enggan menceraikan. Merasa perlakuannya sudah memuncak ia membuat surat yang isinya perjanjian agar sang suami berlaku baik dan bebarapa point yang jika dilanggar berarti telah jatuh talaq. Sang suami membaca kemudian menandatangai yang disaksikan dua orang atasan kerjanya. Beberapa saat sang suami dapat berbuat baik, tetapi tidak lama kemudian kembali menyakitinya. kakak saya merasa sudah jatuh talak, kemudian mengatakan pada suaminya bahwa mereka telah talak, suaminya tidak mengakui, (masa iddah, menurut perhitungan kakak) sang suami menyatakan ingin baik lagi, kinayah rujuk kemudian sang istri menanyakan bagaimana jika terjadi lagi, suaminya menyatakan berarti sudah talak 3. dan tak lama ternyata perlakuan suami kakak kembali menyakiti lagi.

Bagaimana status hubungan mereka? apalagi tadi sang suami menyatakan talaq 3. sebenarnya kakak ingin lanjut cerai tapi suaminya enggan



-- Hartanti (Sragen)

Jawaban:

Wassalamualaikum wr wb.

Saudari Hartanti yang dirahmati ALLAH.

Sesuai dengan yang anda sampaikan, maka sudah jatuh talak 3. Suka tidak suka harus diterima oleh kedua elah pihak karena sudah ada perjanjian. Maaf seharusnya tidak perlu ada perjanjian seperti ini bila kesalahan suami tidak terlalu membahayakan istri dan istri seharusnya memperkuat keshabaran.

Kalau sudah talak 3 makan  mereka berdua tidak boleh rujuk kecuali sang istri sudah menikah dulu dengan orang lain dan sudah melakukan hubngan suami istri. Dan jika sang istri sudah bercerai . Sebagaimana sabda RasuluLLAH saw:

أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِىِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِى فَبَتَّ طَلاَقِى ، وَإِنِّى نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ الْقُرَظِىَّ ، وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِى إِلَى رِفَاعَةَ ، لاَ ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِى عُسَيْلَتَهُ »

Suatu ketika istri Rifaa’ah Al Qurozhiy menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata,  “Aku adalah istri Rifaa’ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu aku menikah dengan ‘Abdurrahman bin Az-Zubair Al Qurozhiy. Akan tetapi sesuatu yang ada padanya seperti hudbatuts-tsaub (ujung kain)”.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersenyum mendengarnya, lantas beliau bersabda : “Apakah kamu ingin kembali kepada Rifaa’ah? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu.” ( HR. Bukhari 5620  dan Muslim 1433 )

WaLLAHU a'lam


 



-- Selamet Junaidi