Apakah Kufur Ni'mat?

Lain-lain, 27 Oktober 2017

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Ustadz apakah termasuk kufur ni'mat apabila saya selalu mengeluh dengan keadaan saya yang apabila menghadapi satu kesulitan ekonomi, untuk menafkahi anak dan isteri dan melunasi utang-utang saya selalu marah dalam hati. Kadang diungkapkan dengan perbuatan sambil mengucapkan Allah tidak adil kenapa orang yang berbuat maksiat begitu mudahnya mendapatkan apa yang dia mau?  Terima kasih.

 



-- Aliagus (Jakarta)

Jawaban:

Wswrwb.

Saudara Aliagus yang dirahmati ALLAH SWT.

Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”

‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”

Nabi SAW pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”

Di dalam hadits ini menunjukkan  bahwa orang-orang kafir disegerakan nikmatnya oleh Allah di dunia, dan boleh jadi itu adalah istidraj dari Allah ( kenikmatan yang akan membuat mereka mendapat azab yang semakin pedih ). Namun apabila mereka mati kelak, sungguh adzab yang Allah berikan sangatlah pedih. Dan adzab itu semakin bertambah tatkala mereka terus berada di dalam kedurhakaan kepada Allah ta’ala.

Maka , sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang banyak kepada kita, dan kita lupa akan hal itu, kenikmatan itu adalah kenikmatan Islam dan Iman. Dimana hal ini yang membedakan kita semua dengan orang kafir. Sungguh kenikmatan di dunia, tidaklah bernilai secuil pun dibanding kenikmatan di akhirat.

Mari kita bandingkan antara dunia dan akhirat, dengan membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah! Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Maka perhatikanlah jari tersebut kembali membawa apa?” (HR. Muslim)

Lihatlah , dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat hanya Nabi misalkan dengan seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian ia menarik jarinya. Perhatikanlah, apa yang ia dapatkan dari celupan tersebut. Jari yang begitu kecil dibandingkan dengan lautan yang begitu luas, mungkin hanya beberapa tetes saja.

Jangan lagi melgeluh apalagi menuduh ALLAH tidak adil. Seharusnya kita qona'ah ( menerima apa yangada  dan bersyukur. Pasti ALLAH tambah. Anda tetap sehat, itu rizqi, anda tetap beriman kepaNYA, ini rizqi yang mahal sekali. Selalulah bersyukur...

WaLLAHU a'lam

 



-- Selamet Junaidi