Kontrasepsi Tubektomi

Fiqih Muamalah, 31 Oktober 2017

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.

Mohon maaf ustadz. Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya KB tubektomi/ vasektomi menurut pandangan Islam? Mohon pencerahannya....jazakallahu khair

Wassalamualaikum wr.wb.

Agus Salim



-- Agus Salim (Pasuruan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Para ulama membolehkan KB (keluarga berencana), dengan pertimbangan bahwa KB dapat menjadi sarana (washilah) untuk mengupayakan adanya keturunan yang lebih berkualitas.

Para ulama berijtihad bahwa KB merupakan bentuk dari tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan) dan bukan merupakan tahdid an-nasl (MEMUTUS KETURUNAN, PEMANDULAN). Di mana tanzhim an-nasl hukumnya mubah (boleh dilakukan) dan tahdid an-nasl hukumnya HARAM.

Namun yang menjadi persoalan adalah tata cara KB saat ini banyak mengalami perkembangan.

Saat ini ada banyak macam tata cara KB, misalnya dengan menggunakan suntik, minum pil, menggunakan kondom, melakukan ‘azl (ketika akan ejakulasi mencabut kemaluan dan mengeluarkan sperma di luar), menggunakan spiral, dan ada juga yang melakukan vasektomi atau tubektomi. Karenanya, KB yang saat ini berkembang tidak serta merta dapat digolongkan sebagai tanzhim an-nasl yang dibolehkan, tapi juga ada yang bisa digolongkan sebagai tahdid an-nasl yang diharamkan, tergantung tata cara KB yang dipergunakan. 

Oleh karenanya, saat ini para ulama dalam menghukumi KB akan melihat terlebih dahulu (tafshil/menyeluruh dengan rinci)

jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan, tidak pemandulan secara tetap sehingga memungkinkan untuk memperoleh keturunan lagi) maka hukumnya boleh (mubah).

Sedangkan jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tahdid an-nasl (memutus keturunan, dimana menyebabkan pemandulan tetap) maka hukumnya haram.

Nah, vasektomi/tubektomi yang  ditanyakan termasuk dalam kategori tahdid an-nasl (pemutusan keturunasn), karena merupakan upaya pemandulan tetap dengan memotong saluran sperma.

Oleh karenanya hukumnya haram, sebagaimana fatwa MUI pada tahun 1979 dan dikukuhkan kembali pada Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se Indonesia ke III tahun 2009.

Memang saat ini ada yang membolehkan vasektomi dengan alasan ditemukannya teknologi yang memungkinkan disambung kembali saluran sperma yang telah dipotong (rekanalisasi). Sehingga menurut pendapat ini alasan hukum (’illah) keharaman vasektomi, yakni pemandulan tetap, dapat dihilangkan, sehingga hukum vasektomi menjadi boleh (mubah), sesuai dengan kaidah:

“Hukum sesuatu tergantung pada ada-tidaknya alasan hukumnya” 

“hilangnya hukum sesuatu disebabkan oleh hilangnya alasan hukum (‘illah)nya”

Namun MUI TIDAK SETUJU DENGAN PENDAPAT INI (VASEKTOMI).

Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se Indonesia tahun 2009 yang diikuti oleh sekitar 750 ulama dari seluruh Indonesia tetap mengharamkan vasektomi, dengan alasan bahwa upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma yang telah dipotong tidak menjamin pulihnya tingkat kesuburan kembali yang bersangkutan, sehingga vasektomi tergolong kategori tahdid an-nasl yang diharamkan.

Keterangan bahwa upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma yang telah dipotong tidak menjamin pulihnya tingkat kesuburan tersebut sebagaimana penjelasan dari Prof. Dr. Farid Anfasa Moeloek dari bagian Obsteri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI dan Furqan Ia Faried dari BKKBN.

Demikian, sedmoga Allah berkenan untuk senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA