Tentang Peringatan Maulid Nabi

Fiqih Muamalah, 19 November 2017

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Ustadz, ana mau tanya? apakah ada hadist atau fatwa yang membenarkan maulid nabi? karena saya pernah dengar, apa bila memberi makan pada perayaan maulid nabi akan mendapat pahala yg besar. dan saya dengar ada fatwa yg membolehkan maulid nabi dari imam Asyfi'i. mohon pencerahannya ustadz.

 



-- Gusti Hendra (Mempawah)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Ada perbedaan pendapat antara Ulama' perihal boleh dan tidaknya mengadakan peringatan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena adanya perbedaan diantara mereka tentang Maulid tersebut, apakah dia termasuk dalam kategori "Muamalah" yang hukum asalnya adalah mubah atau dia termasuk ibadah mahdhoh yang bersifat tauqify/berdasarkan wahyu yang harus berlandaskan Al Qur'an dan Assunnah. Perbedaan dasar inilah yang membuat kontroversi Maulid Nabi sulit menemukan titik temu antar yang membolehkan dan yang mengharamkan

Diantara Ulama' yang mengharamkan peringatan Maulid adalah Ulama' Saudi, seperti  Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhamamad Utsaimin dan yang lainnya, dengan alasan tidak ada contohnya dari para pendahulu yang shalih dari kalangan sabat dan tabiin

Sementara diantara Ulama yang membolehkan dengan syarat-syarat tertentu adalah Jalaluddin Assuyuthy, Muhammad Ramadhan Al Buthy, Yusuf Al Qardhawi

Dan diantara argunentasi yang disampaikan oleh Syaikh Al Qardhawi adalah sebagai berikut :

Ada salah satu jenis perayaan/peringatan yang dapat kita anggap bermanfaat bagi umat Islam. Kita tahu bahwa para Sahabat tidak merayakan Maulid Nabi Muhammad, hijrah Nabi dan Perang Badar, kenapa? Karena kejadian-kejadian diatas mereka lakukan dalam kehidupan nyata. Mereka hidup bersama Nabi SAW. Dan Nabi hidup dalam hati mereka. Tidak hilang dari kesadaran mereka. Sa'ad bin Abi Waqqas berkata: Kami mengisahkan pada anak-anak kami kisah-kisah peperangan Nabi sebagaimana kami menghafal Surah dari Al-Qur'an dengan bercerita pada anak-anak apa yang terjadi dalam Perang Badar dan Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar. Mereka bercerita pada anak-anak mereka apa yang terjadi pada masa hidup Nabi sehingga mereka tidak perlu memperingati perayaan-perayaan semacam ini.

Kemudian datanglah masa di mana manusia melupakan berbagai peristiwa di atas dan hilang dari kesadaran, jiwa dan hati mereka. Maka manusia perlu untuk menghidupkan kembali pemahaman yang telah mati dan mengingat peristiwa yang sudah terlupakan. Betul, terdapat hal-hal bid'ah dalam perkara ini tapi saya berpendapat bahwa kita merayakannya untuk mengingatkan manusia atas hakikat perjalanan kenabian dan risalahnya. Saat kita memperingati Maulid Nabi maka saya memperingati kelahiran terutusnya Nabi; maka saya mengingatkan manusia atas diutusnya Rasulullah dan kisah kenabian beliau.

... Kita saat ini sangat perlu untuk mempelajari (kisah Nabi) ini. Perayaan semacam ini bertujuan untuk mengingatkan manusia akan makna-makna di atas. Saya yakin bahwa di balik beberapa peringatan ini terdapat hasil yang positif yaitu mengikat umat dengan Islam dan mengikat mereka dengan sejarah Nabi untuk dimabil suri tauladan dan panutan. Adapun hal-hal yang keluar dari ini, maka itu bukanlah perayaan dan kami tidak mengakuinya.

(Sumber: http://qaradawi.net/fatawaahkam/30/1444.html).

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan petunjuk kepada kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawab

 Wassalaamu 'alaikum wr wb.



-- Agung Cahyadi, MA