Hukum Tazir Dalam Jual Beli

Fiqih Muamalah, 27 November 2017

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Saya Farid saya hendak mengajukan pembiayaan kendaraan secara syar'i dengan akad sbb:

1. Pihak pertama (leasing) pihak kedua (saya), sepakat untuk menunjuk dealer A untuk mendatangkan kendaraan bermotor yang ingin dibeli oleh pihak kedua.

2. Pihak pertama membeli kendaraan bermotor kemudian dijual kepada pihak kedua dan dibayar secara nyicil dengan DP 2jt dan angsuran 684 ribu x 36 bulan

3. Apabila terdapat keterlambatan pembayaran maka pihak kedua dikenakan denda (Tazir) sesuai sebesar 0.5% dari angsuran.

Yang hendak saya tanyakan, berdasarkan tulisan ustadz agung Cahyadi pada 16 Oktober 2017 bahwasanya hal yang demikian termasuk riba tetapi fatwa MUI nomor 17/DSN-MUI/IX/2000 hal yang demikian diperbolehkan. Mohon penjelasannya ustadz biar tidak terjebak



-- Farid (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wr wb.

Jual beli dalam Islam adalah termasuk dalam kategori fiqih muamalah yang hukum asalnya adalah mubah atau boleh, selama tidak ada ribanya.

Dan riba dalam akad jual beli dengan sistem kredit itu biasanya terdapat dalam klausul denda bila terlambat meng-angsur. Denda tersebut termasuk riba karena itu merupakan penambahan harga dalam satu akad (jual beli dengan 2 harga )

Adapun denda yang tidak termasuk riba dalam jual beli dengan sistem kredit yang difatwakan MUI itu,  in syaa Allah karena denda tersebut bukan kembali kepada penjual, tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, dan hal tersebut tertulis dalam akad dan disepakati oleh kedua belah fihak, dengan maksud ta'ziir agar pembeli tidak menggampangkan hutangnya

Demikian, semoga Allah berkenan untuk membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA