Was-was, Sihir, Thalaq Kinayah Dan Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 8 Desember 2017

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warrahmatullaah...

Ustadz yang dirahmati Allaah...

Perkenankan saya mengajukan pertanyaan..

1. Dalam bab pembahasan mengenai thalaq kinayah, disebutkan bahwa thalaq kinayah adalah "thalaq yang dijatuhkan dengan lafadz kiasan disertai dengan niat", yang berarti lafadz tersebut masih memiliki makna lain selain thalaq...

Misalnya, ketika suami mengatakan kepada istrinya, "pulang saja ke rumah orang tuamu" maka jika kalimat tersebut diucapkan dengan meniatkan thalaq, maka jatuhlah thalaq...

Pertanyaannya, apakah semua kalimat yang diucapkan dengan niat thalaq termasuk kategori thalaq kinayah? Sekalipun kalimat tersebut tidak memiliki kemungkinan makna thalaq?

Saya pernah membaca bahwa jika suami mengatakan, "aku sayang kamu," ke istrinya dengan niat thalaq, maka thalaq tersebut tidak jatuh (sia-sia).

Apakah benar pendapat yang demikian itu, Ustadz?

Dan ada juga seorang guru yang menjelaskan bahwa kalimat yang tidak memiliki arti apa-apa maka tidak sah thalaqnya (thalaqnya sia-sia).

Apakah maksud dari penjelasan guru tersebut? Apakah mungkin kalimat bisa diucapkan tanpa memiliki arti apa-apa?

2. 

Saya masih mengalami was-was... Kemarin, sewaktu saya sedang bekerja menuliskan daftar nama-nama peserta ujian sekolah, tiba-tiba setan menyusupkan bayangan jika keluarga saya berantakan...entah bagaimana, kejadian itu cepat sekali. Lalu si setan mengingatkan saya akan kalimat "kita bubar saja" sebagai kalimat thalaq sharih. Lalu dia membisikkan kalimat tersebut sebanyak 8-10 kali. Awalnya, saya abaikan karena saya sadar itu adalah bagian dari was-was, dan sayapun mulai menulis nama-nama peserta ujian. Namun ketika sudah mulai menulis, tiba-tiba saya merasa ada niat bahwa dengan menulis nama-nama itu saya men-thalaq istri saya...ini terjadi bersamaan dengan bisikan kalimat "kita bubar saja".

Sebelum perasaan niat tadi terjadi, saya merasa bagian pre-frontal cortex (otak di balik dahi pengatur pikiran sadar dan eksekutor keputusan) dan mata saya tertutup semacam tabir...sehingga saya seperti kehilangan sebagian akal sehat (kosong pikiran)

Apakah ini was-was atau bagaimana Ustadz?

Apakah sudah jatuh thalaq ke istri saya?

 

3. Apakah diperbolehkan kita ber-dzikir dengan mengambil satu ayat tertentu dari Al-Quran dan di-wirid-kan dalam jumlah tertentu? Saya pernah diajari oleh seorang guru untuk me-wirid-kan kalimat syahadat sebanyak 3x, shalawat kepada Rasulullaah shalallaahu'alaihi wassaalam 3x, Yaa Allaah 3x, tahmid 3x lalu "Bismillaahirrahmaanirrahiim" sebanyak 773x sebagai sarana taqarrub kepada Allah.

Apakah ini bid'ah Ustadz? Saya takut amalan ini bid'ah dan menjadi salah niat sehingga jin masuk ke tubuh saya dan mengganggu..

Namun, yang saya rasakan, ketika saya mengamalkan lafadz wirid tersebut hati saya tenang dan pikiran sayapun terang benderang...serta was-was berkurang...dan hidup terasa lapangnya...

 

4. Mohon penjelasan mengenai ciri-ciri seseorang mengalami gangguan sihir dan 'ain...

 

5. Mohon penjelasan mengenai hak-hak kedua orang tua yang sudah wafat, yang wajib ditunaikan oleh anak laki-laki yang sudah menikah. Juga mohon penjelasan mengenai hak-hak kedua orang tua dari seorang laki-laki yang wajib ditunaikan oleh menantunya.

 

6. Bagaimanakah kedudukan orang tua istri bagi seorang suami?

Terima kasih atas pejelasan dari Ustadz.

 

Jazakallaahu khair.



-- Abdullaah (Sukabumi)

Jawaban:

Waalaikumsalam wr wb.

Saudara AbduLLAH yang dirahmati ALLAH SWT.

1. Thalaq kinayah yakni ucapan yang bisa bermakna cerai atau tidak dan untuk memastikannya harus ditanyakan kepada sang pengucapnya. Seperti yang anda contohkan, " pulang saja ke rumah tuamu". Ucapan ini bisa bermakna cerai(thalaq) atau pengusiran saja.

Ucapan itu termasuk thalaq qinayah bukan tergantung niatnya tapi memang kalimatnya bermakna dua kemungkinan, cerai atau tidak cerai.

Kalimat "aku sayang kamu" jelas sekali bukan ucapan thalaq qinayah apalagi thalaq shorih, walaupun niatnya thalaq. Maka mana mungkin jatuh thalaq . Aneh dan di luar kebiasaan bahkan tidak mungkin seorang suami berniat menceraikan istrinya dengan ucapan "aku sayang kamu" Kemungkinan besar bila itu terjadi maka hal ini ada hubungan dengan pertanyaan no 2.  Orang tersebut sedang dihinggapi penyakit was was.

2. Soal kedua ini sangat berhubungan dengan no satu. maka apalagi sekedar lintasan perceraian pada benak anda yang menunggangi tulisan anda ketika menulis nama-nama peserta. Sama sekali tidak ada aroma thalaqnya apalagi jatuh thalaq. Anda harus singkirkan dari benak anda dengan banyak berta'awuz dan doa-doa perlindungan. Ini was-was.

3. Kita dianjurkan untuk memperbanyak zikir:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

 

41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
( QS. Al Ahzab )

Semakin banyak zikir semakin bagus. Tapi zikir yang benar-benar zikir yang bermakna "menyebut nama ALLAH"

Maka pastikan menyebut nama ALLAH dengan jelas. Dan zikir bermakna mengingat dengan hati. Jadi pastikan ketika berzikir hati dalam keadaan sadar mengingat ALLAH, tidak pusing atau semaput.

Khususnya pengucapan zikir 773 apakah ini sebuah keharusan untuk tercapainya tujuan. Kalau harus maka yang mengharuskannya hanya ALLAH dan RasuluLLAH. Kita tidak boleh menjadikan jumlah tersebut menjadi syarat.

Boleh jadi ketika mengamalkannya anda tenang tapi setelah itu ? Seperti pertanyaan no 2.?

4. CIRI-CIRI UMUM TERKENA 'AIN DAN HASAD
1.Keadaan yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba berubah buruk. Misalnya yang awalnya sehat-sehat saja, tiba-tiba sakit.
2.Kulit tiba-tiba ada bintik-bintik yang sebentar timbul dan tidak lama hilang.
3.Rasa berat di kening, dibelakang kepala, dan pundak.
4.Tiba-tiba lemas sekali. Dada terasa sesak dan tidak sabaran.
5.Kurang percaya diri dan pelupa.
6.Selalu mendapat kegagalan dalam pelajaran dan usaha.

.CIRI-CIRI TERKENA SIHIR
1.Keluarnya bau busuk dari perut melalui mulut.
2.Keluarnya bau busuk dari tubuh.
3.Perut terasa sangat sakit. Sering muntah.
4.Tidak nafsu makan.
5.Wajah kelihatan menghitam.
6.Keluar bintik-bintik biru di badan.
7.Tubuh terasa benar-benar berat.
8.Penglihatan lemah.
9.Nafas sesak seperti penyakit paru-paru.
10.Selalu bermasalah yang tidak biasanya.

11.Sulit dapat jodoh dan tunangan tiba-tiba gagal.
12.Sulit berhubungan intim.
13.Suami benci sama istri dan sebaliknya.
14.Sehat tapi tidak bisa hamil.
15.Tidak mau bersosialisasi.
16.Sering keguguran.
17.Perubahan yang tiba-tiba pada prilaku.

5. Kewajiban anak terhadap orangtua yang sudah meninggal dunia:

  • Mendo’akan kedua orang tua.
  • Banyak meminta ampunan pada Allah untuk kedua         orang   tua.
  • Memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia.
  • Menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga dekat keduanya yang tidak pernah terjalin.
  • Memuliakan teman dekat keduanya.
  • Bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada. 



 

Kewajiban Menantu kepada Mertuanya:

Tidak hanya terhadap orang tua yang telah melahirkan kita, Islam juga menaruh harkat yang tinggi terhadap ibu bapak dari istri kita (mertua, tanggung jawab terhadap ibu bapak mertua patut menjadi perhatian. Mengacuhkan ibu bapak mertua sama halnya kita mengacuhkan ibu bapak yang telah melahirkan kita sendiri. Menempatkan mertua pada kedudukan yang mulia sama halnya kita  menghormati ibu bapak yang melahirkan kita. Menyakiit hati ibu mertua sama halnya kita menyakiti hati ibu yang melahirkan kita. Cintai anaknya lantas kenapa kita tak cintai yang melahirkannya. Mungkin ada juga seorang menantu yang berhati kecil dan menyembunyikan perasaan kesal terhadap orang tua sebab terlalu jauh turut campur pada urusan anaknya. Rendahkanlah hati, cairkan amarah dan bersabarlah, bangun kembali hubungan yang baik mengingat kedudukannya yang setaraf dengan ibu bapak kandung kita sendiri.

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi