Apa Hukumnya Istri Yang Seperti Ini

Fiqih Muamalah, 11 Desember 2017

Pertanyaan:

Assalamualaikum Pak Ustad,

sebelumnya saya ceritakan latar belakangnya ya Pak Ustadz. Saya sudah menikah 8 Tahun, sudah dikaruniai 2 orang putri. posisi kami di jakarta. kami tinggal di rumah yang dimiliki oleh orang tua saya. orang tua saya posisi sedang sakit dan berlokasi di luar kota (bandung). saya karyawan, punya penghasilan yang saat ini alhamdulilah mampu memberi nafkah, dan sayapun mempercayakan kartu ATM nya ke istri saya sampai saat ini. sebelum menikah kami saling mengenalnya dari jarak jauh kebetulan calon istri ketika itu tinggal di surabaya.

saya ingin mengkonsultasikan terkait istri saya. pandai mengaji, sering mendengarkan ceramah dan taat ibadah shalatnya... namun ada beberapa hal yang istri saya selalu lakukan terhadap saya antara lain :

1. tidak mau mendengar/patuh/menghargai suami,

jadi banyak terkait operasional rumah tangga yang tidak dilakukan istri dengan efisien, sebagai suami tentunya memberikan masukan permintaan agar rumah bisa rapih dan urusan anak bisa kepegang namun dibalas dengan marah dan ketidak terimaan.

istri lebih mendengar masukan atau permintaan dari keluarganya.

2. tidak mau mengurusi suami

awalnya ketika pulang dari kantor dan menemui rumah dengan aqua gallon yang sudah habis, tidak ada beras apalagi makanan, saya selalui akhirnya bertengkar, kemudian perlahan saya coba komunikasikan dengan lembut namun tetap saja tidak berhasil. apabila issue ini diangkat nanti dia berusaha mengalihkan dengan issue irrelevant. dan ujung-ujungnya dia gak sempurna trus nantang balik trus mau apa saya nya ?

3. pemberian buat keluarganya yang tidak dianggap

istri saya dulunya adalah tulang punggung keluarganya, saya menikah ketika dia masih bekerja sebagai karyawan juga, namun sejak anak kedua hadir, kami kesulitan mencari yang bisa pegang bayi, akhirnya dia bersedia melepas pekerjaannya. dengan kompensasi penghasilan dari usaha saya yg lain pendapatannya diserahkan buat dia.

awalnya saya tidak ikut campur pengelolaan uang pribadinya, namun karena keluarganya sering tinggal dirumah, dan banyak biaya2 yang harus dikeluarkan buat keluarganya yang akhirnya saya juga yang tanggung. saya pada dasarnya sangat ikhlas, namun seringnya apa yang telah saya berikan ke keluarganya tidak pernah berarti dan dianggap biasa dengan cara selalu mengatakan bahwa saya tidak pernah memberikan apa2 buat keluarganya. dan saya mulai menjadi keberatan dan mengusulkan agar dia sendiri dan adiknya yg laku-laki ikut berkontribusi. ini pun diawali dengan pertengkaran yang memusingkan.

sayangnya orang tuanya tidak punya kemampuan/ pengetahuan/ pemikiran untuk memberikan saran kepada anaknya.

4. berusaha membuat jarak saya dari keluarga saya (ortu dan keluarga kakak)

pada dasarnya memang ada konflik antara istri saya dengan istri kakak, namun sayangnya konflik tersebut lanjut menjadi kebencian ke anak-anaknya, sedangkan kakak saya adalah saudara kandung satu-satunya, kalo konfliknya ke istri kakak saya, ok. tapi kenapa  dendamnya juga ke anak-anaknya yg tidak bersalah. usaha rekonsiliasi sudah di lakukan namun kembali ke no 1.

sementara 4 poin ini, pada inti saat ini saya hanya mengalah, sebab kalau ingin mengangkat harga diri seorang suami dirumah malah akan berujung pisah dan akan merugikan anak-anak.

yang ingin saya tanyakan adalah,

1.perlakuan-perlakuan istri terhadap suaminya seperti ini apakah berdosa ? hukumnya seperti apa ?

2.apakah apabila saya terus mengalah akan membuat saya menjadi dosa ?

3. apa yg kira-kira baik saya lakukan? berpisah sekarang ? atau nanti setelah anak dewasa ? atau bagaimana ya ?


sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih atas saran dan masukannya, mohon maaf kalau kepanjangan.

wassalamualaikum



-- Ryan (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

1. Apa yang dilakukan istri dengan sikap-2nya yang tidak menghargai, tidak taat dan marah-2 kepada suami ( sebagai mana yang anda ceritakan) adalah bentuk kemaksiatan yang semestinya haram untuk dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya

2. Mengalah untuk sementara dalam rangka memperbaiki sikap istri adalah salah satu solusi, tetapi harus disertai dengan upaya perbaikan secara optimal atas kesalahan sikap istri, dengan menasihatinya dengan bahasa komunikasi yang bijak atau dengan meminta bantuan fihak ketiga yang mungkin akan bisa lebih efektif bisa diterima nasihatnya oleh istri.

tetapi jika anda sebagai seorang suami selalu mengalah dengan tanpa ada upaya perbaikan atas kekeliruan istri, maka berarti anda sama dengan membiarkan sebuah kemungkaran dan itu adalah  perbuatan dosa

3. Jangan tergesa-gesa memutuskan cerai, sebelum melakukan upaya perbaikan secara optimal dengan berbagai cara yang bijak.

Tetapi kalau upaya sudah sangat optimal dan tidak ada perubahan yang signifikan bagi perbaikan istri, maka cerai bisa menjadi solusi terakhir kali, setelah anda komunikasikan dengan semua fihak yang terkait dari keluarga anda dan keluarga istri

Diluar itu semua, jangan pernah anda meninggalkan upaya memperbaiki hubungan dengan Allah, dengan meningkatkan kwalitas ibadah kepada Allah dan ber-do'a secara terus menerus, agar Allah berkenan untuk memberikan petunjuk-Nya kepada keluarga anda dan berkenan untuk memberikan jalan keluar terbaik bagi kebaikan keluarga anda

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan traufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA