Ganti Rugi

Fiqih Muamalah, 18 Desember 2017

Pertanyaan:

Assalaamu'alaykum wr wb Ustadz, apabila tidak sengaja / baru menyadari apa yg dilakukan selama ini ternyata mengambil hak orang lain. Misalnya memakai listrik & air melebihi penghuni kontrakan lain, karena di awal tidak dibuat peraturan dalam penggunaannya, tagihan dibagi rata. Bagaimana hukumnya?

Saya pernah membaca artikel fiqih bahwa segala hal yang merugikan orang lain wajib hukumnya ganti rugi entah sengaja atau tidak. Dan hadist yg menganjurkan untuk ganti rugi sebelum dinar dan dirham tidak bisa digunakan lagi / sebelum pertanggungjawaban di akhirat. 

Jika yang lain sudah memaafkan & mengikhlaskan sebagai sedekah, apakah masih wajib mengganti rugi? Kondisinya sulit menghitung berapa selisih pemakaian listriknya. Jika ternyata masih wajib hukumnya ganti rugi setelah dimaafkan & diikhlaskan, bagaimana sebaiknya menghitung kerugian listrik-air tersebut yg tidak diketahui ukurannya? Khawatir masih ada tanggungan di akhirat..

Mohon jawaban solusinya, ustadz.

Jazakallah khayran katsiron..



-- Mawar (Bandung)

Jawaban:

Wa'alaikumaussalaam wrtwb.

Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan :

و الخطء و الإكراه و النسيان…أسقطه معبودنا الرحمان

لكن مع الإتلاف يثبت البدل…و ينتفي التأثيم عنه و الزلل

Kesalahan karena tidak sengaja, dipaksa, atau lupa, Dimaafkan oleh Ar Rahman, Dzat yang kita sembah…Tapi jika menyebabkan rusaknya sesuatu milik orang lain, maka wajib menggantinya…

Penjelasan kaidah

Kaidah ini berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan seseorang karena tidak sengaja, dipaksa melakukan sesuatu yang salah, atau lupa.

Seseorang yang melakukan kesalahan karena tidak sengaja atau lupa, maka ia tidak berdosa. Tetapi jika kesalahannya tersebut mengakibatkan rusaknya barang atau properti orang lain atau kerugian orang lain, bahkan terbunuhnya orang lain, ia wajib ganti rugi atau membayar diyat, tidak peduli apakah karena tidak sengaja atau karena lupa.

Dan untuk mengitung kerugian tentu perlu perlu ada komunikasi dua arah (yang merugikan dan yang dirugikan) dan akan lebih baik lagi jika melibatkan para ahlinya.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA