Wanita Tidak Ingin Dinikahi Setelah Berzina

Fiqih Muamalah, 22 Desember 2017

Pertanyaan:

Saya memiliki teman yang sedang memiliki permasalahan dan dia cerita dengan saya untuk sekedar meringankan beban dan mencoba mencari solusi dari saya yang tidak memiliki pemahaman atau kompetensi dalam permasalahan yang sedang dia alami. Singkatnya, teman saya memiliki mantan pacar yang awalnya akan dia nikahi namun tersandung oleh restu dari orangtua si wanita dengan alasan – alasan duniawi atau tidak syar’I, seperti tidak satu suku dan dianggap kurang mapan oleh mereka.

Awalnya si pria (teman saya) ini, ingin menyudahi hubungannya dengan si wanita karena dianggapnya akan buang – buang waktu saja mengingat usianya yang sudah kepala tiga dan selagi hubungannya masih belum terlalu jauh, namun si wanita bersikeras ingin mencoba mempertahankan hubungannya dan ingin mencoba meyakinkan si orangtuanya. Dan dengan beberapa pertimbangan si pria menyetujuinya dengan syarat hubungan mereka menjadi agak backstreet (orangtua si wanita tetap mengetahui anaknya masih berhubungan dengan si pria , namun si pria mencoba membatasi silaturahmi ke orang tua wanita , misalnya tidak lagi mengantar si wanita sampai depan rumahnya agar si wanita tidak terlalu sering “bertengkar” dengan ibunya atau si pria mencoba menjaga perasaan ibu si wanita ).

Seiring berjalan waktu, hubungan mereka menjadi “kebablasan” berkali - kali meskipun tidak sampai berhubungan seksual , semenjak itu si pria bertekad akan bertanggungjawab kepada si wanita dan tidak akan meninggalkannya si wanita karena si pria sadar itu sudah termasuk kategori berzina. Dan si pria akan berjanji ikut membantu meyakinkan orangtuanya selepas dia selesai kuliah.

Selang beberapa bulan dan setelah si pria selesai kuliah,  akhirnya si wanita “menyerah” dengan hubungan mereka dengan alasan tidak mendapat restu orangtuanya. Si pria berusaha “mati-mati”-an mempertahankan hubungan mereka dikarenakan sudah merasa terlalu jauh dalam berhubungan selama ini namun si wanita tetap dalam pendiriannya, terlebih keadaan makin dipersulit dengan kehadiran laki – laki lain yang akhir nya mereka bertunangan hingga akhirnya si pria ( teman saya ) tidak dapat berbuat apa – apa lagi.

2 minggu sebelum mereka tunangan ( si pria dengan mantan kekasihnya ), si mantan kekasihnya pernah mengutarakan keinginan untuk kembali dengan teman saya namun masih kurang yakin terhadap restu dari orangtua nya , khususnya si ibu. Ada beberapa pertanyaan dari si pria kepada saya saat ia bercerita tentang masalahnya, antara lain :

1.    Haruskan dia memberitahukan kepada calon tunangan si wanita tentang aib mereka ( si pria & wanita ) terlebih si pria ( teman saya ) masih memiliki keinginan untuk menikahi si wanita  dan ingin memperbaikinya bersama – sama si wanita serta telah menyesali perbuatannya ?

2.    Termasuk perbuatan zalim kah , jika teman saya menutupi aib mereka berdua terhadap si pria yang akan menikahi si wanita ?

3.   Haruskan teman saya itu jujur terhadap kedua orangtua si wanita ( mantan kekasihnya tsb ), khususnya kepada wali / ayahnya ? terlebih teman saya merasa sangat bersalah terhadap kedua orangtua si wanita.

Mohon jawabannya ustad, dan mohon untuk pertanyaan atau cerita ini tidak dipublikasikan dan jika berkenan mohon untuk membalasnya via email saja.

Terimakasih

 

 

 



-- Ady Kurniawan (Jakarta)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb. 

Dalam pernikahan, restu orang tua menjadi unsur yang sangat penting yang harus diperhatikan bersama, dan janganlah seorang muslim itu memaksakan diri untuk menikah sementara orang tua tidak merestuinya, karena bila dipaksakan, hampir bisa dipastikan akan berpengaruh bagi ketentraman rumah tangga kedepan

Berdasarkan hal tersebut diatas, sebaiknya teman pria anda itu tidak memaksakan diri untuk menikahi mantan pacarnya yang sudah pasti akan dipinang lelaki lain, apalagi orang tuanya tidak menyetujuinya

Adapun aib yang ada, sebaiknya ditutupi dan tidak diberitahukan kepada siapa saja ( dan inilah perintah agama Islam), cukuplan dia dan mantar pacarnya bertaubat kepada Allah dari aib yang telah dilakukan

Dan sebaiknya anda sarankan kepada teman anda dan perlu anda bantu untuk segera mencari calon pendamping, semoga Allah berkenan untuk memberikan caslon yang lebih baik

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA