Mempercayai Suami

Pernikahan & Keluarga, 10 Februari 2018

Pertanyaan:

assalamualaikum ustadz...saya janda dengan 2 orang anak yang menikah dengan duda 1 anak. Awal kedekatan kami sudah melakukan banyak dosa dan dia banyak berhutang kepada saya, hutang itu dia lakukan karena untuk usaha dan selalu saja memaksa saya mencari pinjaman sampai sekarang pun. lalu kami memutuskan menikah. sebelum hari H semua masa lalu dia dan saya terungkap. saya sudah menolak melanjutkan pernikahan tapi dia memaksa saya tetap menikah karena semua sudah dipersiapkan dan juga orangtua sudah tau. baru diawal pernikahan ternyata suami masih berhubungan dengan pacarnya dan masih dengan kata sapaan "sayang". ketika saya tahu suami mengatakan jika wanita itu tidak tahu jika dirinya sudah menikah karena tidak penting memberitahukannya. dan dilain hari ternyata suami pun selalu berhubungan via hp dengan wanita yang lain saat saya sedang bekerja, karena suami saat itu hanya usaha saja. pertengkaran sering terjadi bahkan sampai ibu mertua menyuruhnya untuk bercerai saja. tapi suami tidak mau karena suami banyak hutang dan merasa harus mulai usaha lagi dengan meminjam uang atas nama saya. pertengkaran yang sering terjadi pun akhirnya menyeret nama ayah saya yg menurut keluarganya dan juga suami adalah pelaku pesugihan. buat saya sangat kejam tuduhan itu, ayah saya bekerja sebagai buruh bangunan dan alhamdulillah selalu ada pekerjaan. sedang suami saya hingga saat ini tidak mempunyai penghasilan dan memaksa saya untuk mencari pinjaman modal. saya hanya berpikir hutang yang lalu pun belum terbayarkan dan saya yang menyicil hutang-hutangnya atas nama saya, jika mau usaha saya harus siapkan modal (seakan saya ini kepala rumahtangganya). apa yang harus saya lakukan ustadz dengan rumah tangga ini..haruskah saya meneruskannya atau memutuskan pernikahan ini karena sulit buat saya pun mempercayai suami

wassalamualaikum



-- Isna (Tangerang)

Jawaban:

 

وغليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bu Isna yang dirahmati ALLAH SWT. Semoga badai yang sedang melanda rumah tangga bu Isna segera berlalu atas Rahmat ALLAH Yang Maha Penyayang.

Maaf Bu Isna, rumah tangga  yang itu didirikan itu harus ada modal utamanya, sebagaimana sabda RasuluLLAH saw:

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka rumah tangga yang sudah terbentuk harus ada program memperdalam agama , bila keluarga itu ingin dibentuk lebih baik. Nah ini aspek utama yang harus ditingkatkan.

Maaf suami yang baik itu seharusnya minimal tidak menambah beban hidup istrinya. Adapun sikap istri yang ikut menafkahi keluarga yang seharusnya menjadi tugas suami, menjadi shadaqoh bagi istri. Maka anda selain merasakan beban berat ini harus diimbangi dengan keyakinan shadaqoh anda yang semakin menggunung, alhamduliLLAH.

Dalam kondisi seperti ini suami masih sempat main sayang-sayangan dengan perempuan lain? Semoga anda bisa bershabar mempertahankan kebaikan anda dengan memperkuat keikhlasan anda.

Kondisi yang tidak ringan ini diperparah oleh sikap suami , anda harus berhutang atas nama anda dan anda juga yang membayar bila suami mau bekerja?

Anda paling tahu dan merasakan keadaan ini. Anda mampu untuk bershabar, meneruskan rumah tangga ini dengan harapan ada perubahan yang lebih baik. atau tidak meneruskan rumah tangga ini karena anda tahu semakin mudhorot. Kedua opsi ini adalah hak anda memutuskannya.

Perkuat ibadah dan doa kepada ALLAH SWT, semoga ALLAH SWT selalu membimbing anda menjalani jalan terbaik untuk keluarga anda

WaLLAHU a'lam

 



-- Selamet Junaidi