Air Musta'mal

Thaharah, 3 Maret 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya mau nanya ustadz, saya Irwan mhsiswa UWK surabaya

Mengenai air musta'mal, dari buku fiqih saya pernah baca, berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Salah satu istri Nabi Saw. mandi menggunakan baskom besar, lalu Rasulullah Saw. hendak berwudhu dari air tersebut, ia kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, aku sedang junub ", beliau kemudian berkata "Air itu tidak junub".

Nah bukannya air yg sudah dipakai bersuci oleh seseorang tidak bisa untuk mensucikan orang lain, dan bukannya air musta'mal ustadz, bagaimana penjelasan mengenai hadits tersebut ustadz, mohon penjelasannya 🙏🏻



-- Muhammad Irwan (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Ada perbedaan antara Ulama' perihal hukuim air musta'mal ( air yang sudah dipakai untuk bersuci) antara suci dan menyucikan atau suci tetapi tidak menyucikan

Dan in syaa Allah pendapat yang paling kuat dalam hukumnya adalah bahwa air musta’mal itu suci dan menyucikan atau bisa dipakai bersuci.

Adapun dalil bahwa air musta’mal adalah suci:
Dari Al-Miswar bin Makhramah radhiallahu anhu dia berkata:


وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ


“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, hampir-hampir saja mereka berkelahi memperebutkan air bekas wudhu beliau.”(HR. Al-Bukhari no. 516)


Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:


كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ


“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, dan tangan kami saling bersentuhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya.

Sisi pendalilannya jelas: Seandainya air musta’mal najis, niscaya para sahabat dan Aisyah radhiallahu anhum tidak akan menggunakannya untuk bersuci.

Adapun dalil bahwa air musta’mal itu bisa dipakai bersuci:
1. Hukum asal setiap air adalah suci dan bisa dipakai bersuci, sampai ada dalil yang mengeluarkannya dari sifat ini. Dan tidak ada satupun dalil shahih lagi tegas yang mengeluarkan air musta’mal dari hukum asal ini. Penjabaran dalil-dalil pendapat lain telah kami paparkan dalam Ezine Islami Al-Atsariyyah.
2. Air itu hanya ada dua: Suci dan najis. Karenanya, setiap air yang suci pasti bisa dipakai bersuci. Adapun jenis air yang suci tapi tidak bisa dipakai bersuci, maka tidak ada dalil shahih lagi tegas yang menunjukkan adanya. Karenanya, kedua hadits di atas yang menunjukkan dalilnya air musta’mal, keduanya sekaligus menunjukkan bahwa air itu bisa dipakai bersuci.
3. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ


“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah.” (HR. Muslim no. 487)


Inilah pendapat yang paling tepat insya Allah, bahwa air musta’mal itu suci dan bisa dipakai bersuci.

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenan memberikan petunjuk kepada kita semu ke-jlan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA