Status Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 16 April 2018

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum wr wb.

Ustadz, saya punya permasalahan. 

Saudara sepupu saya seorang wanita sekarang usia 55 tahun. Sudah berkeluarga dengan 4 orang anak.

Dia melangsungkan pernikahan pada tahun 1984 dengan proses normal dimana ayahnya waktu itu meminta penghulu untuk mewakili sebagai wali dalam pernikahan.

Baru-baru ini baru diketahui bahwa ayahnya yang menikahkannya pada waktu itu ternyata bukan ayah kandungnya. Ternyata dia adalah anak hasil hubungan diluar nikah dengan orang lain.

Yang saya tanyakan adalah bagaimana status pernikahan saudara saya tersebut. Sah atau tidak?

Apakah keberadaan penghulu sebagai wali nikah pada waktu itu bisa menjadikan status nikahnya sah?

Mohon penelasannya.

Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum wr wb.

 

Ihsan Udin



-- Ihsan Udin (Klaten)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudara Ihsan Udin yang dirahmati ALLAH SWT.

Dalam Islam wali merupakan salah satu rukun nikah, maka konsekwensinya adalah pernikahan tidak dianggap sah kecuali adanya wali 

Lantas siapakah wali bagi anak zina? Untuk menjawab soal ini maka terlebih dahulu kami akan mengetengahkan pandangan para ulama mengenai nasab anak zina. Mayoritas ulama sepakat tidak menasabkan anak zina kepada ayah biologisnya, kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah yang dinasabkan kepada siapa yang mengakuinya, setelah masuk Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh sayyidina Umar bin al-Khaththab ra.  

وَاتَّفَقَ الْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ أَوْلَادَ الزِّنَا لَا يُلْحَقُونَ بِآبَائِهِمْ إِلَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَلَى اخْتِلَافٍ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الصَّحَابَةِ

“Mayoritas ulama sepakat bahwa anak zina tidak di-ilhaq-kan (dinasabkan) kepada bapak mereka  kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah sebagaimana yang diriwayatkan dari sayyidina Umar bin al-Khaththab ra, dan dalam hal ini terjadi perbedaan di antara shahabat” 

Jika anak zina tidak dinasabkan kepada bapak bilogisnya, lantas kepada siapa ia dinasabkan? Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak zina dinasabkan kepada ibunya. Konsekwensi dari penasaban anak zina ke ibunya mengakibatkan si anak tidak memilik wali. Sedangkan orang yang tidak memilik wali, maka walinya adalah penguasa/sulthan. Atau dengan kata lain, walinya adalah wali hakim. Pandangan ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw berikut ini;

اَلسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

“Sulthan (penguasa) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali”. (H.R. Ahmad)

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka laki-laki yang menikahi ibunya tidak bisa menjadi wali nikah bagi si anak perempuan tersebut, tetapi yang menjadi wali nikahnya adalah wali hakim, yaitu pejabat pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama atau yang mewakilinya sampai tingkat daerah yakni pejabat Kantor Urusan Agam (KUA).

Jadi pernikahannya syah.

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi