Hutang

Fiqih Muamalah, 24 April 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb

Maaf saya awam pengen sharing dan masukan pendapat jika A berhutang pada B 2000 rupiah di tahun 2000 ( ditahun ini dengan uang 2000 A bisa membeli 2 bolpoin ) dan baru bisa membayar hutang pada B 15 tahun kemudian di 2015 ( ditahun ini uang 2000 rupiah hanya bisa membeli 1 bolpoin ),,,,,pertanyaannya apakah A dalam islam harus membayar hutangnya sebesar 2000 rupiah,,,,atau 4000 rupiah ? Karena jika A hanya membayar 2000 rupiah B tentu akan dirugikan karena nilai uang menurun,,,,,,,pertanyaan berikutnya apabila B ingin menagih hutangnya kepada A sebesar 4000 rupiah apakah dipandang sebagai kelebihan? Sedangkan nilai uang pada masa itu sudah berubah,,,,,apakah dalam islam nilai nominal uang saja yang dilihat,,,,ataukah boleh dilihat uang sebagai nilai riilnya,,,,,mohon pencerahan,,,



-- Ahmad (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb. 

Pinjam meminjam dalam Islam haruslah berdasarkan niat tolong menolong dan bukan untuk mencari keuntungan, kalau mau mencari keuntungan maka akadnya janganlah dengan akad pinjam meminjam tetapi bisa dirubah dengan akad bisnis ( usaha bagi hasil atau yang lainnya )

Dan oleh karena akad pinjam meminjam itu atas dasar tolong menolong, maka disaat akad pinjam meminjam dilakukan, tidak boleh ada ketentuan harus mengembalikan pinjaman dengan nominal yang lebih besar dari pada nominal pinjaman, sebab bila ada tambahan nominal sekecil apapun itu termasuk riba yang diharamkan dalam Islam

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka A yang berhutang kepada B dengan nominal Rp.2000,-- di tahun 2000, maka B tidak boleh untuk menagih piutangnya kepada A dengan nominal yang lebih besar dari Rp.2000,-

Dan apabila B tetap menagih piutangnya dari A lebih dari Rp.2000,-, maka berarti ia telah mengambil riba yang diharamkan Islam

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenan untuk meberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwwb.



-- Agung Cahyadi, MA