Membayar Zakat Dengan Pembebasan Hutang

Zakat, 4 Mei 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Saya sedang berbisnis dengan sistem kerjasama dengan seseorang (sebut saja SA). Sejak akhir tahun 2017, saya tidak pernah menerima hasil lagi, yang tentunya bertentangan dgn perjanjian bagi hasil yg disepakati. Karena hal tersebut, saya memutuskan menyudahi kerjasama dan disepakati bersama dengan SA. Kami sepakat seluruh modal dan bagi hasil yang belum tersampaikan (total nilai seluruh modal dan bagi hasil yang belum tersampaikan sudah disepakati bersama antara saya dan SA) akan dikirim ke saya pada akhir bulan Januari 2018. Namun hingga saat ini (Mei 2018) belum terlaksana. Sebagai catatan S menunjukkan tanda-tanda terlilit hutang (akibat kesalahan dan urusan personal sehingga uang saya terpakai oleh yang bersangkutan, dan S tidak kooperatif jika ditanya secara detail mengenai hal tersebut). Jika saya bermaksud untuk membayar zakat mal menggunakan sebagian uang saya yang masih di SA, untuk dibayarkan ke SA sebagai zakat mal, dengan pertimbangan SA adalah golongan yang terlilit hutang sehingga berhak menerima zakat apakah diperbolehkan?

 

Terima kasih



-- Tyara (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussaslaam wrwb.

Menggugurkan hutang orang yang belum dilunasi dan memasukkannya ke dalam perhitungan zakat kita adalah termasuk dalam hal yang diperselisihkan oleh para Ulama' :

Boleh menurut para ulama' Mazhab Syafi'i dan Asyhab dari Mazhab Maliki. Ini juga pendapat Imam Ja'far ash-Shadiq, Hasan al-Bashri dan Atha`. Menurut mereka hal ini dibolehkan karena orang-orang yang berhutang itu masuk dalam golongan ghârimîn (orang-orang yang berhutang) yang merupakan salah satu dari delapan mashârîf zakat (penerima zakat) yang Allah sebutkan dalam firman-Nya soroh At Taubah ayat ke-60

Sementara menurut sebagaian Ulama' ( termasuk hanafiyah ) tidak boleh menggugurkan hutang orang dengan menganggapkan sebagai zakat, alasan mereka adalah karena sifat zakat itu adalah TAMLIK ( memindahkan hak milik ), dan pada saat kita menggugurkan hutang mereka dengan zakat, kita belum menyerakan atau belum memindahkan hak milik kepadanya. Tetapi apabila kita serahkan zakat kita kepada orang yang berhutang, kemudian setelah diterima olehnya, kita ingatkan akan hutangnya kepada kita kemudian ia menyerahkan zakat yang baru saja diterima kepada kita untuk membayuar hutangnya, maka hal itu diperbolehkan

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenan untuk memberikan petunjuk , taufiq dan ridho-Nya kepada kita semuia

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA