Tidak Diberikan Restu


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Bapak/ibu. 

Saya wanita umur 25 tahun 4 bulan. Saya memiliki orang tua lengkap yang 15 bulan lagi akan pensiun, sebelum pensiun ibu saya berpesan untuk mencari jodoh paling tidak tahun depan sudah menikah, karena saya anak terakhir dari 3, meskipun mas kandung saya belum menikah. 

Permasalahannya saya memiliki calon anggap saja Ari dimana kami satu kantor (peraturan perusahaan boleh menikah dgn co-worker), tapi ibu saya tidak setuju karna sudah memiliki calon yaitu tetangga saya sendri, sebut saja Beni. Saya memang dulu sempat dekat dengan Beni namun tidak ada perasaan apapun, saya juga menolak menikah dengan Beni karena dalam obrolan kami sering tidak nyambung, menurut saya sendiri dia kurang peka sebagai laki-laki dan sedikit manja. Beni memang berasal dari keluarga yg cukup berada, pekerjaannya juga sangat baik bahkan gajinya lebih dari Ari, mungkin itulah mengapa ibu saya lebih memilih Beni. Tetapi Ari juga sudah bekerja dengan settle dan mapan. 

Alasan ibu saya menolak mas A adalah karna "melihat wajahnya sudah tidak suka", berasal dari desa, dan hartanya kurang banyak, perkataan ibu yang membuat saya masih sangat jelas di ingatan adalah "perempuan itu cari harta jangan cari cinta, cari yang bisa di ajak sandaran, yg kalau mengeluarkan uang 1 2 juta itu ga berat di tabungan". Ibu saya juga tidak segan memaki-maki saya dengan kata-kata kasar seperti anak tidak tau diri, sudah di kuliahkan tinggi malah memilih orang desa. 

Sejujurnya jika masalah derajat Ari dan Beni adalah sama, sama-sama sholeh alhamduliah solat selalu ditepati, lulusan S1 ternama, dan latar belakang keluarga ayah dan ibunya sebagai tenaga pendidik serta sama2 anak terakhir sehingga ibu bapaknya tidak memiliki tanggungan lagi. Namun, hanya karna Ari besar di wonogiri yg sederhana sehingga tidak bisa menyamakan gaya hidup kami yg tinggal dikota. 

Saya pun sudah menjelaskan untuk bertemu dahulu dan mengenal sperti apa Ari namun ibu saya selalu menolak, terakhir ibu saya mencap saya anak durhaka karna sering menentang ucapan orang tua dan tidak nurut lalu juga mengucapkan sumpah "sampai mati aku ga akan beri restu jadi kalau kamu sampe berani lihat kehidupanmu besok tanpa restu bapak ibu", dan ternyata ibu saya juga sudah menjanjikan ke ibu mas B bahwa saya sebagai mantu. 

 

Saya paham bahwa hidup ini memang harus realistis, toh saya pun pernah melihat kehidupan pernikahan yg gagal dan bercerai itu sperti apa karna kakak saya pernah bercerai. Tetapi InsyaAllah Ari orang yg sholeh dan mapan. 

 

Suatu hari saat ada acara teman2 kantor smua ikut hajatan di jawa timur, saya menyempatkan diri mengunjungi rumah Ari bersama rombongan 1 mobil,  saya dan teman2 bisa menilai bahwa mereka memang orang yg sederhana, beriman dan cukup berada. Disisi lain ternyata keluarga Ari sudah mengetahui permasalahan saya dan tetap mendoakan agar saya sabar dan agar doa ikhitar saya tercapai. Saya bisa menyimpulkan bahwa mereka menyukai saya dan memahami kekhawatiran ibu saya akan kehidupan saya nantinya. Selama ini sikap Ari juga kekeuh dengan pendiriannya bahwa suatu saat ibu saya akan lunak dan meyakini bahwa rezeki datang dari Allah.. 

Saya bertanya kepada Bapak Ibu Uztad Uztadzah apa yg harus saya lakukan dan doa apa yg harus saya panjatkan, puasa senin kamis akan tetap kami lakukan, tetapi hati saya selalu sedih mengingat bahwa orang tua saya cukup kolot dan mengucap kata-kata kasar, yang terakhir jika saya nekat maka tidak akan ada restu yg mengaliri kehidupan pernikahan saya dgn Mas A, naudzubillah. 

 

Terima kasih telah menampung curahan hati saya,

Wassalamu'alaikum Wr wb



-- Nadya (Semarang)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

’Mbak Nadya yang dirahmati ALLAH SWT.

Benar pernikahan itu harus mendapat restu orangtua ayah dan ibu. Anda menceritakan bahwa ibu yang menolak pilihan anda. Kalau ayah?

Maka sekarang fokuskan diri anda untuk mendapat restu beliau berdua. Kalau ayah anda setuju maka jangan anda yang maju menghadapi ibunda tapi ayah. Akan lebih baik lagi jika ada pendukung lain dari pihak bibi, paman dan saudara. Harapannya bukan dibenturkan tapi menjadikan hati ibunda luluh dengan penuh kesadaran .

Anda sendiri harus menunjukkan rasa hormat dan selalu memperbagus pelayanan dan akhlak pada ibunda. Semoga dengan demikian  hati ibunda luluh dan setuju in sya ALLAH.

Semakin dekatlah kepada ALLAH Sang Penguasa hati, shalat di awal waktu dan perlama sujud anda dan suara hati anda mohon agar beri jalan keluar terbaik masalah ( jangan diucapkan ).

Berdoalah terus diiringi banyak istighfar:

أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ

 وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

 

Aku mohon cinta-Mu

dan cinta orang yang mencintai-Mu

serta amalan yang mendekatkanku

kepada cinta-Mu “

( HR> Ahmad )

Yakinlah apalagi doa dipanjatkan  di bulan ramadan.

Semoga keinginan suci anda segera terwujud.

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi