Pacaran

Fiqih Muamalah, 11 Mei 2018

Pertanyaan:

assalamualaikum wr. wb.

saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya jika berpacaran namun orang tua sudah mengetahui dan merestui,apakah tidak masalah jika hubungan itu tetap di jalani atau hal itu hukumnya tetap haram?terimakasih.



-- Zidan Ramadhan (Malang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Hukum asal Muamalah (interaksi sesama orang) adalah mubah atau boleh, kecuali jika ada dalil yang melarangnya.

Dan dalam masalah pacaran, ternyata kita dapati bahwasannya ada dalil di dalam al-Qur’an dan hadits yang melarangnya, ayat tersebut adalah;


 و لا تقربوا الزنا انه كان فاحشة و ساء سبيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS Al-Isra:32)

Sedangkan haditsnya;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

( رواه البخاري)

“Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya”. (Muttafaq Alaihi)


Dengan dasar kedua dalil tersebut, maka disimpulkan bahwa pacaran itu dilarang di dalam Islam.

Allah dan Rasul-Nya telah mewanti-wanti kita semua agar tidak mendekati zina, seperti berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, bersentuhan dan apalagi yang lebih dari itu

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka seharusnya anada segera menghentikan hubungan kalian dengan cara pacaran tersebut, dan bersegera meminta kepada orang tua untuk mengikat hubungan kalian dengan akad nikah yang sah

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA