Hadiah

Fiqih Muamalah, 16 Mei 2018

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz, saya pegawai di salah satu instansi pemerintah. Tugas saya terkait pelayanan masyarakat. Beberapa hari yang lalu, salah seorang (masyarakat yg saya layani) mengirim pulsa sebesar 100rb ke nomor saya, yang ingin saya tanyakan bagaimana hukum pulsa tersebut, haruskah saya mengembalikannya?. Syukran atas jawabannya.



-- Ririn (Makassar)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Hukum asal memberi hadiah adalah mubah (boleh) bagi siapa saja. Namun apabila hadiah tersebut diberikan karena suatu jabatan atau kepentingan menyangkut kedudukan dari si penerima hadiah maka hal tersebut adalah haram. Karena hal tersebut termasuk suap/sogok (riswah).

sebagai contoh, bahwa setiap pegawai negeri yang telah diberikan wewenang dan tugas oleh Negara sesuai dengan pekerjaannya, maka mereka dilarang menerima apapun dari siapapun terkait dengan pekerjaannya kecuali apa yang diterimanya dari gaji/honor/upah/imbalannya. Pendapatan di luar itu atau imbalan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (dan tidak melanggar ketentuan hukum Islam) adalah perolehan yang diharamkan. Rasulullah saw. bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil olehnya selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulûl (kecurangan).” (HR Abu Dawud).

Hadits ini dengan tegas melarang siapa pun yang jadi pegawai untuk mengambil kelebihan (harta) dalam bentuk apapun dari yang telah ditetapkan (berupa upah) atas mereka.

Apabila hal itu dilanggar dan mereka mengambil (harta) lebih dari upah yang menjadi hak mereka (sebagai pegawai) maka perbuatannya itu dimasukkan ke dalam perbuatan curang; hartanya termasuk harta ghulûl (hasil kecurangan yang diharamkan) dan pada Hari Kiamat ia akan memikulnya sebagai azab. Hadits ini juga bersifat umum kepada siapa saja yang telah diberikan pekerjaan oleh musta’jir (majikan)-nya untuk tidak mengambil apapun di luar dari upah yang ditetapkan kepadanya.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka mestinya pulsa yang anda terima tersebut harus anda kembalikan kepada yang memberi

emikian, semoga Allah senantiasa berkenan untuk memberikan kepada kita sekalian petunjuk ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA