Perlukah Dipertahankan

Pernikahan & Keluarga, 11 Juni 2018

Pertanyaan:

Assalamu alaikum,

Mau bertanya titipan sepupu dia suka curhat.

Perlukah pernikahannya menjelang 6 tahun dipertahankan apabila seorang istri selalu berusaha bersabar dan berdoa tetapi sang suami belum berubah sampai dengan saat ini:

1. Malas dan jarang berjamaah di mesjid

2. Sering meninggalkan sholat 5 waktu padahal bapak dan ibunya haji (ibunya tergolong rajin beribadah dan pensiun guru sedangkan bapaknya rajin kemesjid dan punya totokromo)

3. Masih memikirkan kemauan dan keinginan yang belum terwujud

4. Menunda dan tidak bersemangat jika berbicara masalah momongan

5. Silahturahmi dengan ibu mertua dan ipar jarang sedangkan sang istri dituntut untuk bersilahturahmi dengan pihak keluarga suami

6. Tidak mengijinkan istri berhijab

7. Antara kemauan dan keuangan tidak sesuai / berambisi

8. Egois dan moody alias seenaknya

9. Pernah membelikan pulsa buat wanita yang tidak dikenal walau hanya ingin tahu sedangkan istrinya belum pernah dibelikan pulsa

10. Selalu diingatkan ini itu dalam kebaikan namun tidak banyak diabaikan

 

History rumah tangga sepupu aku adalah pernikahannya tidak disetujui oleh ibu suami dan sampai saat ini tidak diakui. hanya pihak bapak dan keluarga bapak yang mengakui dan mendukung. Setiap berkumpul dengan keluarga suami secara tidak sengaja selalu ditanya hubungannya dengan ibu mertua (terkesan bahan obrolan mengejek walaupum maksudnyabaik hanya menanya kabar) pada saat pernikahan seluruh keluarga dari ibunya tidak diperkenankan hadir dan menemui sepupu saya. Lamaran yang ditarik kembali oleh pihak ibunya hanya dengan menyuruh adik suami,saudara perwakilan bapak dan ibunya agar terkesan mewakili keluarga. Namun bapak suaminya dan keluarga tetap bertahan bahwa tidak ada lamaran yang digagalkan dan akan berlangsung pada waktu yang telah disepakati. Keluarga dari bapak yang sudah berjasa karena membantu kelangsungan pernikahan. Walaupun saat itu saudara saya sudah berusaha untuk memutuskan hubungan dengan calon suaminya saat itu namun melihat keadaan ibu,saudaranya serta keluarga bapak suaminya sehingga diapun tetap melanjutkan pernikahannya memang seperti sebuah aib.

Saat ini dia sedang galau antara bertahan dengan tidak pernikahannya pasalnya bapak dan keluarga bapaknya baik sekali. Dan sebenernya dia tidak mau gagal dalam pernikahan pasalnya history pakdhe atau orang tua sepupu saya itu tidak bagus keduanya pernah bercerai dan menikah masing masing membawa anak . Sedangkan dari history ortu suamijya yang saya tahu bapak dan ibunya sudah lama pisah ranjang dan tidak ada komunikasi hanya melalui anak anaknya. Ibunya tidak pernah mau bersilahturahmi dengan mertuanya yang notenya adalah budhenya (bapak dan ibu dari suaminya merupakan sepupu)

Saya sebagai saudara tidak bisa memberikan solusi. Bagaimana menurut pandangan islam mengenai hal ini. Apakah saudara saya perlu mempertahankan pernikahan seperti ini atau bagaimana? Dia selalu bilang mumpung belim dikaruniai anak sehingga akan lebih mudah

Padahal untuk biaya promil dia selalu berusaha sampai pinjam di bank, berbagai cara konsultasi dia lakukan namun suaminya hanya menanggapi santai...belum waktunya..tanpa ikhtiar.

Saat ini dia mau focus untuk berkuoiah untuk mengalihkan semua masalah pernikahan dan anak. Tetapi dia selalu bilang apakah dia bisa bertahan atau tidak. Dia selalu berfikir ko bisa seorang ibu membuang anak atau bahkan membunuhnya,ko bisa seorang yang sudah diberikan keutuhan rumah tangga tetapi masih selingkuh.....sungguh hal yang aneh

Maaf jika tulisan terlalu panjang mohjn responnya. Terimakasih. Wassalamu alaikum 



-- Sari (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Saya perhatikan ada hal-hal yang prinsip yang harus segera dicarikan solusi, kalau masih mau mempertahakan rumah tangga, dan apabila tidak ditemukan solusinya, menurut saya lebih baik diakhiri demi kebaikan bersama

Hal-hal yang prinsip yang harus segera diperbaiki sebagai solusinya tersebut, diantara masalah shalat fardhunya, tidak mengizinkan istri berhijab, masalah silaturrahim, berhubungan dengan wantia non mahram

Komunikasikan hal tersebut kepada suami dengan cara yang bijak dan juga kepada orang tua, semoga Allah berkenan untuk memberikan hidayah

Kalau upaya perbaikan dengan maksimal terhadap hal-hal yang prinsip tidak juga membuahkan hasil, menurut saya berpisah menjadi solusi terbaik

Demikian, sekedar masun seoga bermanfaat, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA