Nikah Paksa

Pernikahan & Keluarga, 7 Agustus 2018

Pertanyaan:

Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

ustaz saya mau bertanya...bagaimana hukumnya nikah dengan perjodohan tanpa musyawarah dengan wanita yang bersangkutan, padahal si wanita tidak ikhlas dengan perjodohan itu. sehingga pada kenyataannya wanita yang Nikah jiwanya merasa tertekan tidak bahagia dalam rumah tangganya

mohon sertakan dengan daalilnya ..

Trimakasih ustaz..

Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.



-- Hukum Menikah Sementara Wanitanya Tterpaksa Tidak (Pekanbaru)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Karena tujuan pernikahan itu adalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, maka salah satu syarat pernikahan adalah adalah dua calon mempelai yang saling meridho dan tidak terpaksa.

Yang karenanya haram hukumnya bagi seorang wali dari seorang wanita untuk memaksanya menikah dengan lelaki yang tidak dia ridhoi dan dia cintai.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang tugas wali terhadap putrinya sebelum menikah,

لَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Gadis tidak boleh dinikahkan sampai dia dimintai izin.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadits ini dipahami para ulama berlaku untuk semua gadis dan semua wali. Karena itu, Imam Bukhari memberi judul hadis ini dengan :

باب لا يُنكح الأبُ وغيره البكرَ والثَّيِّبَ ، إلا برضاهما

Ayah maupun wali lainnya tidak boleh menikahkan seorang gadis maupun janda, kecuali dengan keridhaannya. (Shahih Bukhari, bab ke-41).

Ketika orang tua memaksa putrinya untuk menikah, maka status pernikahan tergantung kepada kerelaan pengantin wanita. Jika dia rela dan bersedia dengan pernikahannya maka akadnya sah. Jika tidak rela, maka akadnya batal.

Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

Ada seorang wanita yang mengadukan sikap ayahnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan :

“Ayahku memaksa aku menikah dengan keponakannya. Agar dia terkesan lebih mulia setelah menikah denganku.”

Kata sahabat Buraidah : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan urusan pernikahan itu kepada si wanita.”

Kemudian wanita ini mengatakan,

قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي ، وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Sebenarnya aku telah merelakan apa yang dilakukan ayahku. Hanya saja, aku ingin agar para wanita mengetahui bahwa ayah sama sekali tidak punya wewenang memaksa putrinya menikah. (HR. Ibn Majah dan dishahihkan oleh al-Wadhi’I dalam al-Shahih al-Musnad, hlm. 160).

Dan ketika si wanita tidak bersedia dan tidak rela dengan pernikahannya, dia tidak boleh untuk berduaan dengan suaminya, demikian pula sebaliknya, suami tidak boleh meminta istrinya untuk berduaan bersamanya. Ini berlaku selama dia tidak ridha dengan pernikahannya.

Dan dalam kondisi si wanita tidak ridho, maka perpisahan harus dilakukan melalui ucapan talak yang dilontarkan suami atau istri menggugat ke Pengadilan, untuk dilakukan fasakh. Mengingat ada sebagian ulama yang menilainya sebagai pernikahan yang sah.

Sehingga yang bisa dilakukan wanita ini yang tidak rdho tersebut, meminta  suaminya untuk mengucapkan kata cerai. Atau dia mengajukan ke pengadilan agar diceraikan hakim (fasakh).

 

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenan untuk membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA