Jodoh

Lain-lain, 20 September 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Uatadz. Mohon maaf sebelumnya. Saya Surabaya 24 tahun 

Saya ingin menanyakan saat ini saya sedang galau saya menyukai seorang wanita yg pendidikanya jauh lebih tinggi dari pada saya . saya lulusam madrasah dia s2 

Pada bulan juli lalu kami sudah taaruf dan dia juga mau dengan saya jarak 1 minggu saya sudah main kerumahnya untuk bertemu dengan ortunya dan ortunya mnrima oiya slm prjlnan itu saya sdh istikoroh juga. 

Setelah sy dari rumah itu sy konsultasi dg kluarga sy dan klurga pun setuju. Rencana oktober mndtng sy mau khitbah. Namun masih ada mengganjal gara2 sy baca artikel tentang pernikahan yg tdk sekufu di bidang pndidikan ini saya mohon pncerahanya sy bngung dan khawatir jika brlngsung dan trnyta efek dri beda pndidikan ini bisa membuat posisi sy sbg kpla rumah tngga nanti bisa trgeser. Tp di sisin lain sy sdh memberikan harapan kpd nya dn kluarganya dan juga sy sdh jatuh cinta padanya

 

Demikian ust mohon pncerahnya



-- Subianto (Banyumas)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudara Subianto yang dirahmati ALLAH SWT.

Anda seharusnya semakin mantab melangkah ke jenjang pernikahan karena sudah ta'aruf hingga dengan  orangtuanya apalagi anda sudah istikharah.

Dengan ta'aruf justru anda berdua sedang menjajaki kekufuan atau kesepadanan . Jika sudah saling memahami dan gayung bersambut selama ta'aruf maka masing-masing merasakan kesepadanan. RasuluLLAH SAW bersabda:

 

يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ لَهَا كُفْؤًا

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang jangan kau tunda pelaksanannya; shalat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan wanita apabila telah menemukan jodohnya yang sekufu/sepadan” (HR. Tirmidzi; )

Berdasarkan hadits di atas, sekufu itu perlu. Ia bukan syarat dan rukun pernikahan tetapi dapat menjadi syarat kelestarian pernikahan

Menurut Imam Malik, ungkapan kafa’ah ini khusus untuk agama. Bahwa orang yang bagus agamanya, ia sekufu dengan pasangan yang bagus pula agamanya. Imam Syafi’i juga mendukung pendapat ini. Bahwa kafa’ah adalah dalam bidang agama, sedangkan harta tidak dimasukkan dalam kategori kafa’ah.

Dalam buku Di Ambang Pernikahan, Mohammad Fauzil Adhim menjelaskan bahwa yang dimaksud agama pada pembahasan kufu di sini bukanlah pengetahuan/kognitif saja. Tetapi lebih dari itu, yang dimaksud kafa’ah adalah keberagamaan; iman taqwa dan akhlaknya.

Jadi, kafa’ah dalam bidang agama yang dimaksud bukanlah tingkat pengetahuan terhadap agama, melainkan pengamalan terhadap agama, terhadap syariat Islam.

Meski demikian, bukan berarti masalah usia, harta dan kedudukan serta kecantikan dan ketampanan diabaikan begitu saja. Sebab kita hidup bersama keluarga besar dan masyarakat. Kita hidup dengan lingkungan dan situasi yang tidak sama dibandingkan dengan lingkungan dan situasi yang dialami oleh para sahabat. Bahkan, ada pula sahabat yang akhirnya bercerai karena ketidakcocokan istri dengan ‘ketampanan suami.’ “Ya Rasulullah,” kata istri Tsabit bin Qais, “aku ingin meminta cerai dari Tsabit bukan karaea aku mencela agamanya dan akhlaknya, akan tetapi aku khawatir diriku menjadi kufur”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; “Sanggupkah kamu mengembalikan tanah kebun yang ia berikan kepadamu sebagai mas kawin ketika pernikahanmu dulu?”. Ia menjawab; “Ya, aku sanggup”. Ia pun mengembalikan tanah kebun itu. Rasulullah lalu berkata kepada Tsabit; “Ceraikanlah dia”.

Semoga anda melangkah dengan mantab menuju pernikahan dan dimudahkan ALLAH SWT. Dan terbentuk keluarga sakinah.

WaLLAHU a'lam

 



-- Selamet Junaidi