Riya Dalam Ibadah

Lain-lain, 27 September 2018

Pertanyaan:

Asalamualaikum Waramtullahi Wabarakatuh

ustad saya mau bertanya tentang sebuah hadist

“Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).

apakah maksud hadist diatas tentang ibadah sunah seperti solat tahajud dan puasa senin dan kamis, yang harus disembunyikan dari orang lain ataupun itu keluarga kita sendiri apabila ditakutkan riya?

 

mohon penjelasan detailnya beserta sumbernya

terimakasih
amansyah [jakarta]



-- Mansya (Jakarta)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudara Mansya yang dirahmati ALLAH SWT

Hadits tersebut mengajari kita tentang urgensinya keikhlasan bukan keharusan menyembunyikan shadaqah karena ALLAH SWT berfirman dalam Al-Qur’an membolehkan sedekah dilakukan secara terbuka atau terang-terangan sebagaimana diperbolehkannya sedekah secara rahasia atau tertutup. Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam  Surah Al Baqarah, ayat  274:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ


"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang – terangan maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

 

Apakah sedekah yang dilakukan secara rahasia dan tidak diketahui orang lain dijamin pasti lebih baik dari pada yang dilakukan secara terbuka? Jawabanya, belum tentu sebab baik buruk suatu amal tergantung pada keikhlasan, sedangkan keikhlasan itu terletak di dalam hati. Bisa saja seseorang bersedekah dengan menggunakan anonim, seperti “Hamba Allah”, tetapi dalam hati sebenarnya ia sangat membanggakannya. Ini bisa berarti riya’, yang berarti pula tidak ikhlas. Demikian sebaliknya, bisa saja seseorang bersedekah secara terbuka dengan mencantumkan nama yang jelas dan diketahui orang banyak, tetapi dalam hatinya tidak ada rasa pamer sedikitpun dan jauh dari keinginan untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Bukankah yang disebut terakhir itu lebih baik dari pada yang disebut pertama? 

Maka demikian pula dengan amal ibadah lainnya. Harus menjaga keikhlasan. bukan harus disembunyikan.

WaLLAHU a'lam

 



-- Selamet Junaidi