Ibadah Bagi Orang Berkebutuhan Khusus

Fiqih Muamalah, 7 Oktober 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb. Ustadz.Saya hamba Allah yang mempunyai adik yang sejak dari lahir mempunyai gangguan saraf motorik (gerak). Adik saya merupakan tuna daksa yang sebagian saraf motorik terganggu akibat proses persalinan yang kurang lancar. Untuk berjalan harus memakai walker dan jika memegang sesuatu harus diawasi karena saraf motoriknya yang tak seperti orang normal. Selain itu untuk berbicara juga tidak senormal orang pada umumnya, namun masih bisa diajak komunikasi. Adik saya sudah berumur 17 tahun. Yang ingin saya tanyakan bagaimana kewajiban ibadah bagi orang tuna daksa seperti adik saya.? Bagaimana hukumnya ustadz.? Dan siapa yang berkewajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada adik saya, mengingat ibu saya sudah wafat, namun tetap masih ada bapak.?
 
Jazakallah khairan.
 
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

 



-- Willy (Pasuran)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Yang bertanggung jawab untuk membimbing anak, baik yang normal atau yang mempunyai kekurangan itu adalah bapaknya, berdasarkan firman Allah dalam suroh yang ke-66, ayat yang ke-6

Dan karenanya, apabila bapaknya tidak mampu atau tidak ada kesempatan untuk membimbing anaknya, maka bapak wajib untuk mewakilkan kepa yang lainnya, baik kepada perorangan yang mampu untuk membimbing anaknya tersebut atau ke sebuah lembaga pendidikan yang khusus menangangi siswa yang mempunyai kekekuranga tertentu

Ibadah itu adalah kewajiban kepada setiap mukallaf, yaitu  orang muslim yang telah baligh dan berakal sesuai dengan kemampuan, karena Allah tidak memberikan beban ibadah diluar batas kemampuannya

Secara global cara membimbing anak yang tuna daksa adalah sebagai bertikut :

Para peserta bimbingan disesuaikan dengan porsi kecacatannya. Apabila mereka tidak mampu berjalan, ketika berwudhu dibantu. Apabila mereka tidak mampu berdiri maka diajarkan shalat sambil duduk. Apabila tidak mampu bersuci dengan air maka diajarkan dan dibantu untuk bertayammum. Akan tetapi bantuan dan bimbingan tersebut tidak selalu diberikan. Selanjutnya mereka dilatih untuk mandiri, dengan harapan agar kelak mampu melakukan ibadah sendiri terlebih mengurus kebutuhannya sendiri

Demikian, semoga Allah bertkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA