Menikah Muda

Pernikahan & Keluarga, 9 Oktober 2018

Pertanyaan:

Barokalloh ustadz. Saya memilki adik ipar laki laki berusia 19 saat ini iya agamanya kurang tidak pernah sholat tidak bisa ngaji . Akhir akhir ini dia memiliki teman wanita dan meminta kepada orangtuanya (mertua saya) dan juga orangtua wanita untuk dinikahkan. Sedangkan keduanya tidak memiliki ilmu agama dan belum memiliki pekerjaan karena mereka sebelumnya kuliah namun tidak tuntas. Akhirnya ke2orangtua merekapun sepakat untuk menikahkan ke2nya rencananya dalam waktu dekat ini.

Pertanyaan: Langakah seperti apa yang harus saya lakukan ustadz ? Suami saya memiliki rencana untuk memberi pelajaran ilmu agama ke pesantren kepada mereka terlebih dahulu namun karena mereka ingin cepat menikah rencananya jadi di ubah baru setelah menikah ia akan belajar agama. 

Lalu ketika adik ipar saya yang laki laki belum memliki pekerjaan dan setelah menikah belajar agama apakah mertua saya yang harus membiayai atau menafkahi keduanya ?



-- Hazara (Bandung)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudari Hazara ang dirahmati ALLAH SWT.

Banyak orang yang bingung ketika menghadapi pernikahan. Ada yang sibuk mempersiapkan pernak-pernik pernikahan dan pesta pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan ilmu, mental dan spiritual dalam menjalaninya. Meskipun setiap orang tahu bahwa pernikahan adalah ibadah, menggenapkan setengah agama, tetapi karena kesibukan persiapan perlengkapan nikah dan pestanya sering membuat nuansa ibadah dalam pernikahan tersebut terlupakan.

Ada beberapa persiapan yang perlu dihadapi menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan diantaranya mental tanggung jawab menafkahi istrinya( bagi suami ), persiapan ruhiyyah menjelang pernikahan serta persiapan fisik sebelum menikah. 

Idealnya demikian ditunda dulu tapi bila justru pernikahan  berlangsung dan persiapan itu dilakukan sambil berjalannya pernikahan pasti akan ada sandungan dan hambatan.

Apalagi adik ipar anda belum punya sumber penghasilan dan dua pihak keluarga sudah tahu maka itu bisa dimusyawarahkan dengan baik  akan tetapi tentu pihak keluarga  laki-laki yang bertanggung jawab untuk memenuhinya karena suamilah yang berkewajiban memberi nafkah.

WaLLAHU alam



-- Selamet Junaidi