Pengkhianatan Sebelum Nikah

Pernikahan & Keluarga, 24 Oktober 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum wrwb. Saya adalah seorang pria berusia 27 tahun. Saya baru menikah sekitar 4 bulan. Sebelum menikah saya sempat berpacaran selama kurang lebih 5 tahun. Setelah usia pernikahan 1 bulan istri saya jujur bahwa pernah tidur dengan rekan kerja saya ketika kami berpacaran dan bahkan setelah dia saya lamar. Saya sangat terpukul, depresi, sakit hati dan kecewa akan kejadian tersebut. Saya tidak ridho dunia akhirat. Bahkan seringkali menghilangkan gairah saya dalam memberikan nafkah batin terhadap istri dan selalu terjadi pertengkaran apabila saya teringat hal tersebut. Tapi di sisi lain saya juga sangat menyayangi istri saya dan dia sudah betaubat dan selalu berusaha menjadi istri yg baik tapi tetap sakit hati saya tidak berkurang. Apa yang harus saya lakukan ustadz ? Apakah saya harus bercerai ? Atau bertahan demi keluarga dan demi istri saya yang sekarang tengah mengandung ??

Terimakasih. Semoga jawaban admin bisa menjadi perantara hidayah dari ALLOH SWT terhadap keluarga saya dan ALLOH SWT membalas kebaikan admin. Amiiin ya Robal alamin. 


-- Doni (Bandung)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Kami bisa memahami keterpukulan dan kepedihan yang Saudara rasakan. Tentu saja sangat berat sekali. Ya perasaan seperti itu sangat termaklumi.

Dan keputusan sikap ada di tangan Saudara sendiri. Faktor penentu utamanya adalah kesiapan Saudara. Jika Saudara siap untuk mempertahankan rumah tangga dengan segala konsekuensinya, maka tentu saja itu akan lebih baik. Sedangkan bila Saudara tidak sanggup, maka jalan berpisahpun tetap dimungkinkan. Ini terkait faktor penentu dan syarat pilihan sikap dari sisi Saudara.

Adapun dari sisi sang istri, maka faktor dan syarat penentunya adalah kondisi taubatnya. Jika terbukti beliau telah benar-benar taubat, maka sebagaimana Allah selalu siap menyambut dan menerima hamba-Nya yang bertaubat, maka demikian pula dengan Saudara, sebaiknya siap memaafkan dan mempertahankannya sebagai istri dan calon ibu bagi putra putri Saudara.

Demikian jawaban singkat kami, disertai doa dan harapan semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada Saudara sekeluarga.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA