Suami Sering Chating Dengan Wanita Lain

Pernikahan & Keluarga, 29 Oktober 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz 

Saya sudah menikah dengan suami hampir 10 tahun dan sudah dikaruniai 2 anak. Pada saat kekurangan harta suami saya sering meminta saya untuk mencari pekerjaan tapi begitu saya dapat pekejaan dia bilang tidak usah bekerja nanti anak bagaimana. saya bingung ustadz harus bagaimana karena omongannya sering beda sesuai keadaan tidak bisa dipegang. Pada saat hamil anak pertama karena kekurangan, diam-diam dia sering sms ke perempuan lain. Saya bilang ke suami saya ikhlas melepaskan jika memang menyukainya saya ingin suami saya tidak berbuat dosa ustadz, dia bilang tidak mau cerai dari saya sampai kapanpun tidak melepaskan saya tapi hal itu sering terjadi ustadz. Sampai sekarangpun masih sering terjadi dengan perempuan yang berbeda lagi padahal suami sering ikut kajian dan mendrngar kajian. Dia juga sering kasar sering membentak saya hanya diam dan menagis saja. saya sakit hati sampai rasa cinta saya hilang ustadz karena dia lebih senang chating dengan temanya lawan jenis dari pada memperhatikan anak2nya. Dia masih menafkahi saya. Hapenya sampai2 dikunci dengan pasword agar saya tidak bisa membuka. Saya harus bagaimana ustadz. Saya sudah tidak sanggup lagi.



-- Rina (Semarang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Pertama, tetap bersabar dan bermuhasabah (introspeksi diri) seraya terus berdoa dan tak henti berikhtiar mencari solusi-solusi yang tepat.

Kedua, tidak bosan dan tidak lelah dalam upaya mengingatkan serta menyadarkan suami atas keteledoran dan kesalahannya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, tentu dengan jalan yang sehikmah mungkin, dan yang tidak justru kontra produktif.

Ketiga, meminta tolong kepada orang yang diharapkan mampu membantu memberikan solusi, atau yang disegani dan didengar nasehat serta masukannya oleh suami. Dan yang terbaik bila yang bersangkutan berasal dari lingkup keluarga suami.

Keempat, bila hal-hal diatas dinilai tidak lagi efektif untuk menyelesaikan masalah, maka alternatif langkah terakhir adalah berpisah. Tapi ini harus benar-benar sebagai pilihan langkah paling akhir, setelah langkah-langkah lainnya benar-benar dijalani secara optimal dan maksimal.

Sekian, semoga manfaat.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA