Sakaratul Maut

Lain-lain, 16 November 2018

Pertanyaan:

Ass... Pa ustad mohon pencerahannya. Perkenalkan saya anisa dr banjarmasin. Saat ini saya sedih dan merasa sangat bersalah kepd ibu saya yang baru saja meninggal karena tidak menggubris saat saat sakaratul maut alm. Sebenarnya dalam hati sdh mngatakan ibu dlm keadaan sakaratul maut tp sungguh bodohny saya tidak berpikir untuk mngumpulkan sanak saudara parahnya lagi alm tdk saya dampingi saat kritis itu karena ada tamu. Saya sangat menyesal dan durhaka kepada ibu saya. Pa ustad apa yg harus saya lakukan saya merasa betapa menderitanya alm saat itu karena kesalahan saya. Saya trus saja memikirkan itu dan juga alm. Mohon pa ustad tanggapanny. Trima kasih... As. Wr. Wb.



-- Anisa (Banjarmasin)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Benar, anda memang salah ketika anda tidak mendampingi orang tua saat beliau menghadapi sakaratul maut hanya sekedar menghormati tamu, tetapi bukan berarti telah tertutup pintu bagi anda untuk bertaubat dan untuk berbakti kepada orang tua setelah wafat

Sesali kesalahan tersebut dan perbanyak untuk beristighfar kepada Allah dan lakukan hal-hal sebagai berikut sebagai bakti anda kepada orang tua :

 

Ada enam hal yang bisa anda lakukan sebagai bentuk berbakti dengan orang tua ketika telah meninggal dunia:

  • Mendo’akan kedua orang tua.
  • Banyak meminta ampunan pada Allah untuk kedua orang tua.
  • Memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia.
  • Menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga dekat keduanya yang tidak pernah terjalin.
  • Memuliakan teman dekat keduanya.
  • Bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada.

Enam hal tersebut berdasarkan bebepa dali sebagai berikut :

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata :

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّىَ

Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya setelah meninggal dunia.” Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat baik (ayahku) Umar (bin Al-Khattab).

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata :

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari)

Demikian, semoga Allah senantiasa berkenan untuk mengampuni segala khilaf dan berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA