Apakah Nafkah Anak Sesuai Kemampuan Suami Setelah Bercerai

Lain-lain, 6 Desember 2018

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Ustadz mau bertanya: Apakah nafkah anak sesuai kemampuan mantan suami setelah bercerai??



-- Siti Hanifah (Tangerang)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudara Siti Hanifah yang dirahmati ALLAH SWT.

Ketika terjadi perceraian dan masa iddah sudah selesai, wanita yang dulunya menjadi istri, kini berubah status menjadi mantan istri. Tali pernikahan sudah putus, bukan lagi suami-istri. Sehingga dia tidak wajib dinafkahi oleh mantan suaminya.

Namun hak nafkah bagi anak, tidak putus, sehingga ayah tetap berkewajiban menanggung semua kebutuhan anak, sekalipun anak itu tinggal bersama mantan istrinya.

Imam Ibnul Mundzir mengatakan,

وَأَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ , عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْءِ نَفَقَةَ أَوْلادِهِ الأَطْفَالِ الَّذِينَ لا مَالَ لَهُمْ . وَلأَنَّ وَلَدَ الإِنْسَانِ بَعْضُهُ , وَهُوَ بَعْضُ وَالِدِهِ , فَكَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ كَذَلِكَ عَلَى بَعْضِهِ وَأَصْلِه

Ulama yang kami ketahui sepakat bahwa seorang lelaki wajib menanggung nafkah anak-anaknya yang masih kecil, yang tidak memiliki harta. Karena anak seseorang adalah darah dagingnya, dia bagian dari orang tuanya. Sebagaimana dia berkewajiban memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, dia juga berkewajiban memberi nafkah untuk darah dagingnya. (al-Mughni, 8/171).

Tentu semua keperluan anaknya harus dipenuhi tanpa dikurangi bahkan lebih baik jika dilebihkan. Tapi jika sang ayah benar-benar belum mampu memenuhi semuanya karena kondisinya memang demikian. Tentu saja sesuai kemampuan sang ayah. Karena pada dasarnya semua kewajiban harus ditunaikan dengan usaha optimal sesuai kemampuan.

Sebagaimana firman ALLAH SWT:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

( QS. AL Baqarah )

WaLLAHU a'lam



-- Selamet Junaidi