Curhat

Pernikahan & Keluarga, 7 Maret 2019

Pertanyaan:

Assalamualaikum

Ustadz saya seorang istri menikah udah 7 tahun. selama pernikahan, suami saya pernah ketahuan kenalan dg banyak wanita dan chat2an.entah sampai tahap ketemuan dll atau tidak saya kurang paham. tapi saya selalu memaafkan. dan berulang terjadi lg. dan itu membuat saya menjadi istri yang posesif dan kasar.

Di tahun2 terakhir sy belajar mengikhlaskan dan belajar percaya lagi dg suami.sy jg mengimbangi dg belajar sholat2 sunnah dan belajar agama.dan alhamdulillah hati sy lebih tenang dan lebih lapang.hati sy jg bisa mengikhlaskan kesalahan2 suami sy.meskipun sikap sy masih dalam tahap belajar menjadi lebih baik.mengurangi emosi dan posesif.

Bulan januari kemarin suami sy bilang sudah gak cinta lagi dg sy.alasannya karena sikap sy yg sering marah2,dan katanya tidak menghargai dy sebagai kepala rumah tangga.dan dy bilang "lebih baik kita jalan sendiri2 saja,karena sepertinya kita tidak bisa sejalan dan sepemahaman,"tp bbrapa hari kemudian sampai minggu kemarin nafkah lahir dan batin masih terpenuhi meskipun melakukannya tanpa cinta.

Setiap hr hanya bicara seperlunya saja.sms atau wa dari sy jarang di balas.dan dr bulan januari sampai sekarang sikap suami sy sangat berubah.dingin,tidak ada perhatian,kerja sengaja plg malam.suami jg sengaja melakukan banyak hal yg sy tidak suka.mungkin maksutnya sengaja memancing kemarahan sy agar gampang mencari alasan menceraikan sy. dan kemrin tgl 5 maret dy sms "kayaknya rumah tangga kita udah gak bisa di teruskan.karena berat kalo harus pura2 dan selalu dzolimi km..."

Besok paginya dy bilang lg mau mengurus surat2nya(cerai).dan sy bilang sy gak mau dan sy gak akan nerima.sy mau mempertahankan RT kita.dan dy gak jawab lg

Apakah yang suami katakan bulan januari dan tgl 5 maret itu termasuk talak dan talak ke berapa?

Lalu sy harus bagaimana?

Terimakasih sebelumnya

 



-- Yati (Surabaya)

Jawaban:

W'alaikumussalam wr.wb.

Kami turut sangat prihatin terhadap apa yang Ibu alami dalam kehidupan rumah tangga Ibu. Tentu seperti itu sangat tidak mudah bagi seorang istri. Tapi kita juga harus ingat, dalam rangka introspeksi diri, bahwa hal seperti itu biasanya hampir pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Baik itu yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Tapi tentu tentang bagian ini, tidak bisa dibahas disini khususnya untuk sekarang ini. karena tentang itu memang perlu pembahasan panjang, lebar dan sekaligus dalam.

Kami langsung fokus dan to the point saja pada pertanyaan Ibu tentang talak: apakah sudah jatuh ataukah belum?

Para ulama mengatakan bahwa, talak itu ada dua macamnya. Pertama, talak sharih, yaitu talak yang diucapkan atau dikatakan oleh seorang suami, yang secara jelas dan tegas ditujukan kepada istrinya, dengan menggunakan kata-kata yang jelas dan tegas pula, seperti misalnya: saya talak kamu; saya ceraikan kamu; saya pegat (Jawa) kamu; dst dengan kata-kata dalam bahasa apa saja yang merupakan terjemahan tekstual dari kata talak, dan tidak punya tarsir lain selain talak/cerai. Nah untuk talak jenis ini, ketika dikatakan oleh seorang suami kepada istrinya, maka hukum talak otomatis jatuh meskipun semula niatnya hanya bersenda gurau, main-main dll.

Macam kedua, talak kinayah, yang berarti talak sindiran. Yakni ucapan atau perkataan yang bisa bermakna talak dan cerai, namun kata-kata atau kalimat-kalimat yang digunakan tidak secara jelas dan tegas mengandung tafsir tunggal (talak) itu. Melainkan makna dan maksudnya justru multi tafsir, bisa beragam tafsirnya. Bisa bertafsir talak dan bisa juga yang lainnya. Seperti misalnya suami yang mengusir istrinya dan menyuruhnya pulang kembali ke rumah orang tuanya. Atau seperti kata-kata suami diatas itu: "lbh baik kita jalan sendiri2 saja...dst". Atau yang ini: "kayaknya rumah tangga kita udah gak bisa diteruskan...dll". Ya kailimat-kalimat seperti itu dan yang semacamnya, termasuk dalam kategori talak kinayah. Dimana talak jenis ini, ketika diucapkan dan dikatakan, tidak berarti talak langsung jatuh. Ia baru jatuh sebagai talak jika setelah dikonfirmasi, si suami  memang benar-benar meniatkan dan menegaskan maksud talak tersebut. Jadi tergantung pada suami apa maksudnya.

Sedangkan terkait apa yang dibilang suami bahwa, dia mau mengurus surat-surat cerai dan semacamnya, maka ini juga sama, tidak serta merta jatuh sebagai talak denngan pernyataan niatnya untuk mengurus surat-surat tersebut. Melainkan talak baru jatuh saat sang suami memang telah benar-benar menanda tangani surat pengajuan cerai tersebut dan lebih-lebih jika telah mengajukannya ke pengadilan agama.

Demikian jawaban singkat yang bisa kami berikan. Semoga bermanfaat, teriring doa semoga Allah Ta'ala senantiasa mengaruniakan kerahmatan dan keberkahan-Nya kepada Ibu dan rumah tangga Ibu.

Amin. 

 



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA