Perbedaan Dalam Menentukan Tanggal Menikah

Lain-lain, 19 April 2019

Pertanyaan:

Assalamualaikum, 

Saya dan calon suami saya akan melangsungkan pernikahan, namun saat ini terkendala oleh perbedaan prinsip orang tua kami dalam menentukan tanggal pernikahan.

Ayah saya yang notabene adalah seorang ustadz, memiliki prinsip ingin menikahkan saya pada 4 bulan mulia dalam islam yaitu muharram, dzul qa'dah, dzul hijjah, dan rajab.

Sedangkan calon mertua saya yang kental dengan budaya kejawen, ingin melangsungkan akad nikah pada tanggal yang sudah ditentukan dengan hitungan kejawen.

Sayangnya saat dihitung, tanggal yang dihitung tidak ada dalam 4 bulan tersebut. Sehinggal ayah saya menolak.

Saya dan calon saya sudah mencoba cara dengan berkomunikasi dengan mereka, namun mereka tetap teguh dengan pendiriannya masing-masing.

Hal ini menyebabkan ibu dan ayah dari calon suami saya bertengkar hebat karena ayahnya membujuk untuk mengikuti kemauan ayah saya.

Jujur saya dan calon saya sudah tidak tau harus berbuat apa dan hanya bisa berdoa.

Apakah kami harus mengalah dengan membatalkan pernikahan ini?

Mohon sarannya 🙏

Terimakasih 🙏



-- Esty (Malang)

Jawaban:

Wa'alaikum salam wrwb.

Saudari Esty yang dirahmati ALLAH SWT.

Sebaiknya pernikahan yang agung dan telah di ambang pintu ijab qobul ini jangan sampai gagal hanya perkara yang kecil ini. Sangat ditak pantas bila pernikahan dibatalkan gara-gara perselihan tanggal.

Anda berdua bersabar menunggu badai perselisihan ini reda. Anda berdua hendaknya puasa sunnah untuk mengendalikan nafsu dan memanfaatkan moment terkabulnya doa orang yang sedang berpuasa.

Teruslah berbuat baik kepada orang tua Anda masing-masing semoga saatnya hati mereka luluh. Sebaiknya pula minta kepada paman atau bibi Anda untuk meluluhkan hati orang tua Anda agar tidak memaksakan kehendaknya untuk membatalkan pernikahan gara-gara perbedaan memilih tanggal.

Jika khususnya Ayah Anda mau mengalah mengikuti kemauan tanggal yang ditetapkan berdasarkan budaya kejawen akan lebih baik asal tidak mengikuti keyakinannya. Tapi semata-mata karena ingin menjalankan syari'ah pernikahan yang agung ini.

Semoga satu saja ada yang mengalah. Dan pernikahan Anda berlangsung dengan mudah dan lancar serta terbentuk keluarga baru yang sakinah.

WaLLAHU a'lam bishshawaab.



-- Selamet Junaidi