Pemberian Nafkah Suami Lebih Besar Ke Mantan Istri, Adilkah Bagi Saya


Pertanyaan:

lebih kurang 3 tahun lalu saya menikah dengan duda beranak satu laki-laki, yang sekarang berusia 9 tahun yang tinggal dengan mantan. sekarang sayapun dianugerahi seorang putri bersama suami berusia 10 bulan. dari awal menikah sampai sekarang tanpa sepengetahuan saya suami memberikan nafkah yang jauh lebih besar 2 atau 3 kali lipat bahkan lebih kepada mantan istri dengan alasan untuk anak. dari awal nikah sampai sekarang suami memberi saya 200 rb-400 rb/minggu. bahkan biaya kebutuhan vitamin dair hamil sampai perlengkapan anak saya lahir dan akikah serta sampai saat ini suami saya tidak mau tau. semua dibeban kepada saya. ketika saya pertanyakan suami mengatakan "kan sudah saya buatkan rumah". yah memang sekarang kami sudah ada rumah yang sudah ditempati meski terbengkalai dan masih satu kamar saja yang dilantai. disana juga ada uang tabungan saya dalam proses pembuatannya. awalnya saya ikhlas kan smua nya, meski saya sedih, kecewa dan sempat putus asa. terlebih belum lagi mantan istrinya meneror saya dengan penuh ancaman berbagai kata-kata di sosial media. jika smua uang yg diminta tidak dipenuhi.belum lagi kata-kata kotornya memaki suami saya, hancur rasanya hati seolah-olah suami saya budaknya. pdahal suami selalu mengirimi uang nafkah untuk anak nya tidak pernah terlambat, nmun mantan istrinya slalu mrasa kurang dan meminta lagi dr hal terkecil sekalipun.seperti uang potong rambut, uang ke mall dsb nya. padahal mantan istrinya bekerja. sama sperti sy. bahkan mmiliki karir yg bagus.namun dia tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk anaknya.smua dibebankan ke suami sy. bagaimana sy sebaiknya menyikapi hal ini ustad mohon nasehatnya..terimakasih wassalam



-- MSY (Pekanbaru)

Jawaban:

Di dalam syariah Islam, setelah suami istri bercerai, nafkah anak memang tetap menjadi kewajiban dan tanggungan bapaknya, dimanapun dan bersama siapapun sang anak tinggal. Termasuk ketika ia tinggal bersama ibunya sekalipun, seperti kasus yang terjadi pada suami Ibu. Namun dalam memberikan nafkah kepada anak tersebut, tentu harus sesuai kebutuhan dan bukan karena faktor adanya tekanan atau ancaman dari ibu si anak atau siapapun. Disamping hal itu juga tidak boleh sampai mengorbankan hak-hak Ibu sebagai istri sahnya sekarang dan anak ibu darinya yang berarti juga anaknya dan darah dagingnya.

Intinya kewajiban-kewajiban tersebut harus ditunaikan dan dipenuhi oleh suami dengan cara yang baik dan adil, tanpa harus ada yang terdzalimi dan menjadi korban. Dan untuk itu Ibu harus membicarakannya baik-baik dengan suami. Atau kalau tidak bisa, berarti perlu dibantu oleh pihak lain yang diduga bisa mengingatkan suami dan diharapkan suami juga akan mendengarkan serta memperhatikan. Termasuk dalam hal ini terkait sikap mantan istrinya yang sampai menekan, mengancam dan lain sebagainya. Semua itu harus dibicarakan bersama secara baik tentang bagaimana cara menghadapi dan menyikapinya secara tepat. Dimana tanggung jawab pertama dan utama disini juga terletak di pundak suami.

Kami turut mendoakan, apalagi sekarang bulan suci Ramadhan, semoga Allah Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada Ibu dan suami untuk bisa mendapatkan solusi dan jalan keluar terbaik bagi problem dan permasalahan yang sedang terjadi. Amin.  



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA