Solusi Apabila Mempunyai Ayah Yang Memiliki Pola Pikir Seperti Anak Kecil Dan Manja


Pertanyaan:

Sebelumnya perkenalkan saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, sekarang saya berstatus mahasiswa disalah satu perguruan tinggi kedinasan semester akhir. Saya akan menceritakan sedikit tentang keluarga saya dan permasalahan yang ada didalamnya. Permasalahan pokok yang akan saya ceritakan ini menurut saya bersumber dari ayah saya. Ayah saya merupakan seorang dengan tingkat pendidikan lulusan SMP yang sekarang berumur sekitar 60an tahun. Ayah saya manikah dengan ibu saya, setelah sebelumnya cerai dengan istri sebelumnya. 

Ayah saya ini menurut saya mempunyai pola pikir masih seperti anak kecil dan sangat manja. Beberapa sifat tersebut adalah:

1. Ketika sedang sakit begitu melebih-lebihkan, dia lebih memilih untuk berdiam diri dan terus mengeluh, menggigil, dan tanpa ada usaha usaha untuk membeli obat atau menyembuhkan.

2. Dia seperti tidak punya tanggung jawab, bahkan sebagian besar biaya sekolah anak-anaknya yang menanggung adalah ibu saya. Dia hampir selalu menjawab dengan kata "pusing dagangan sepi, gimana lagi". Begitu pasrah dengan keadaan.

3. Ketika ibu saya bekerja part time ayah saya justru, banyak membuat buat alasan agar dia libur berdagang dan beristirahat dengan tidur seharian yang berujung kebutuhan rumah tangga menjadi ditanggung ibu saya.

4. Dia bahkan sama sekali tidak menjalankan perintah agamanya seperti sholat, puasa, zakat, dll.

5. Ketika dagangan sepi dan modal menipis, dia lebih memilih untuk meminjam uang kepada koperasi atau anaknya. Lagi-lagi dia seperti tidak punya tanggung jawab, apabila meminjam dari koperasi dan dagangan sepi dia akan melemparkan angsuran ke anaknya. Apabila meminjam dari anaknya dan anaknya menagih, kadang dia marah dengan dasar bahwa anaknya seharusnya mengiklaskan padahal uang tersebut susah payah anaknya kumpulkan untuk membiayai keperluan kuliah dia sendiri.

6. Saya sendiri kadang merasa iri kepada teman saya yang biaya kos, dan keperluan lainnya orang tua yang tanggung sedangkan saya harus berusaha sendiri itupun uang jerih payah saya sendiri sering diminta ayah saya dengan alibi "meminjam" sehingga disamping saya harus belajar dengan keras untuk menghindari Drop Out kampus saya juga harus potar otak untuk memenuhi kebutuhan kuliah.

Akhir-akhir ini saya menjadi sering emosi disamping saya sedang menyelsaikan tugas akhir saya juga tertekan dengan kebutuhan finansial yang harus saya fikirkan entah itu untuk keperluan kuliah, membantu memenuhi keperluan keluarga, membantu memenuhi kebutuhan sekolah adik saya. 

Saya ingin bertanya, sebenarnya apa yang harus saya lakukan (untuk diri sendiri dan untuk mengobah pola pikir ayah sayah) ketika saya sendiri merasa mempunyai ayah yang masih memiliki pola pikir seperti anak kecil, manja, tidak bertanggung jawab, suka menjelek-jelekan tetangga, suka berbohong (bahkan kadang curang berdagang) seperti mencampur adonan telur dengan air, tidak bisa berfikir panjang, pemalas (sering tidur seharian), tidak pernah sholat, begitu pasrah dengan keadaan.

Bahkan saya, saudara saya, ibu, paman, nenek sepakat begitu tidak suka dengan sifat-sifatnya tersebut.

 



-- Iwan Hendriyanto (Tangerang Selatan)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Menurut hukum Islam seorang yang mengaku sebagai seorang muslim, tetapi tidak mau menidirikan shalat fardhu yang lima kali dalam sehari, maka telah dihukumi sebagai kafir, kalau keadaan ayah anda sebagaimana yang anda ceritakan, bahwa beliau tidak mau shalat, maka berarti ayah anda telah kafir meskipun mengaku dan ber-KTP sebagai muslim

Dan meskipun sebagai kafir, tetapi status sebagai ayah anda tidak pernah bisa berubah sampai kapanpun

Yang karenanya, kewajiban anda untuk berbakti kepadanya tetap berlaku

Dan bentuk bakti tersebut diantaranya;  anda tetap harus menghormatinya dengan berlaku baik, berbahasa yang sopan dan lemah lembut, membenarkan kesalahannya dengan cara yang bijaksana dan yang lebih penting lagi adalah mendo'akan agar Allah berkenan untuk memberikan hidayah kepadanya

Demikian, semoga Allag berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA