Dilema Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 27 Juni 2019

Pertanyaan:

assalamualaikum wr wb. saya pria 32 tahun, saya ingin konsutasi mengenai pernikahan saya yang sudah hancur lebur. saya wiraswasta yang membuka toko sendiri, istri saya seorang pegawai BUMN. Saya menikah 2012, dan dikaruniai 2 orang putri yang saat ini baru berumur 6 dan 4 tahun. sampai 2015 kami adalah rumah tangga seperti rumah tangga pada umumnya, saya dan istri sama sama saling menjaga hati satu sama lain

Permulaan masalah didalam rumah tangga saya, berawal dari 24 nopember 2015. waktu itu saya dan kedua anak saya menjemput istri saya di bandara didepan mata saya dengan jarak kurang dari 10 meter, saya menyaksikan istri saya memeluk lelaki lain sebagai salam perpisahan. hal itu tidak bisa saya terima. setelah pulang saya membahas hal itu, saya hanya menginginkan maaf dari dia, namun rupanya hal itu malah membuat kami bertengkar, istri saya menganggap hal itu biasa saja. Pebruary 2016 istri saya harus pindah kota karena ditugaskan oleh kantornya di kota lain, hal itu membuat saya mulai frustasi. saya benar benar tidak ingin memiliki rumah tangga yang berpisah kota, saat itu kondisi saya belum memungkinkan utk pindah kota mengikutinya, selain itu posisi saya sebagai suami

Akhir tahun 2016, saya masuk rumah sakit, operasi selama 4 jam, tanpa istri saya.. istri saya datang pada malam harinya namun hanya beberapa jam saja, harus kembali lagi ke kota tempatnya bekerja. awal tahun 2017 istri saya mampu membeli sebuah mobil, dia menjadi sangat angkuh, pernah suatu kali hinaan yang sangat tidak bisa saya terima mengenai mobil itu yang pada intinya istri saya takut mobilnya rusak karena saya pakai. beberapa hal itu membuat saya frustasi, membuat saya mrah sebagai seorang suami, hingga akhirnya saya selingkuh sebgai pelampiasan.. saya biarkan perselingkuhan itu ketahuan oleh istri saya, saya ingin dia marah. dan dia mengetahui nya. di pertengahan 201 kami berbicara mengenai masalah rumah tangga kami, dan akhirnya kami tidak jadi cerai, kami sama2 saling berjanji. namun di 2018, istri saya kembali ke sifatnya, suka menghina saya, bahkan beberapa x saya rasa sangat menginjak nginjak saya sebagai seorag suami. dan istri saya masih belum ada kejelasan kapan akan kembali kekota asal kami. saya kembali berselingkuh.

saya salah, saya akui itu, saya pun sama sekali tidak mencintai wanita selingkuhan saya, saya hanya mencari pelarian karena kondisi rumah tangga saya, bahkan disetiap saya bersama wanita selingkuhan saya, saya harus membayangkan wajah istri saya terlebih dahulu. dan akhirnya istri saya mengajukan gugatan cerai 10 september 2018, proses sidang kami sangat panjang, dan selama proses sidang itu istri saya berubah berubah, kdang baik, kdang sangat jahat

istri saya diwakili oleh seorang pengacara, dan sangat banyak fakta diputar balikkan.. istri saya tidak mengakui bahwa kami pernah rujuk, dituntutannya saya adalah seorang suami tukang selingkuh dan tukang main tangan. ya saya akui kami beberapa x bertengkar dgn keras, namun saya pun masih memiliki bekas luka yang sudah terjadi lebih dari 1 tahun lalu

ditambah dengan kepintaran pengacaranya, jadilah saya benar benar terpojok di pengadilan, saya tidak bisa adu argumen. bahkan perihal selama sidang kami masih berhubungan suami istri pun di putar balikkan. 23 januari 2019, istri saya menang di pengadilan. resmi cerai menurut pengadilan, dan dia sangat senang. di april 2019, saya seperti mendapat angin segar,

saya dan istri kembali berhubungan baik, jalan bersama, ngobrol panjang lebar, bahkan serumah bersama. disaat itu juga saya mengetahui bahwa selama persidangan istri saya selalu dipengarhi oleh pengacaranya untuk tidak bersikap baik kepada saya. namun di bulan juni ini sepertinya angin segar itu sudah usai. sampai detik ini, saya sangat mengahrapkan rumah angga saya bisa rujuk kembali, saya pun masih menafkahi anak anak saya, bahkan beberapa x saya menafkahi istri saya bila memang istri saya membutuhkan.

yang ingin saya tanyakan

1. apakah sah di mata agama perceraian kami karena banyak sekali hal-hal yang diputar balikkan oleh istri saya dan pengacaranya

2. apakah ada cara supaya saya bisa rujuk kembali.

terima kasih

 



-- Faizal Iwan (Balikpapan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Perceraian itu bisa terjadi karena suami yang menjatuhkan cerai dan pengadilan yang menjatuhkan cerai karena gugatan. Dan oleh karena istri anda telah menggugat cerai ke Pengadilan dan kemudian Pengadilan telah menetapkan cerai, maka cerai tersebut dianggap sah terlepas dari kebohongan istri dalam menyampaikan alasan gugatan

Dan Jika anda mau kembali ruju', itu bisa saja, dan tentu dengan persetujuan mantan istri setelah sehabis masa iddahnya

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA