Was Was

Pernikahan & Keluarga, 1 Oktober 2019

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Bapak-Bapak Ustadz Konsultasi Syariah.
mohon ijin untuk bertanya seputar hukum talak.
1. Apakah hukumnya di dalam islam jika ragu-ragu terucap atau tidaknya dalam kalimat sharih dan ragu-ragu ada niat atau tidak dalam kalimat kinayah yang mana orang itu mempunyai sifat peragu?
2. Apakah hukumnya di dalam islam jika lupa pernah mengucap atau tidak baik dalam kalimat sharih maupun kalimat kinayah yang mana orang itu mempunyai sifat pelupa?
3. Bagaimana hukumnya di dalam islam jika kalimat kinayah diucapkan dalam bentuk pertanyaan?
4. Bagaimana hukumnya di dalam islam jika seseorang tidak dapat membedakan apakah beneran ada niat atau bukan dalam kalimat kinayah? karena pada saat itu dadanya sesak dan tertekan oleh was-was yang di deritanya.
mohon di jawab dengan tulisan dan sejelas-jelasnya agar mudah dipahami.
terima kasih Bapak-Bapak Ustadz Konsultasi Syariah, Semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak-Bapak semuanya. Aamiin.


-- Irfan (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Pertanyaan-pertanyaan yang anda tanyakan sebagaimana yang telah anda tuliskan itu, mohon maaf menurut saya bersumber dari penyakit yang namanya WASWAS, ini dulu yang semestinya anda terapi.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam kitabnya, Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, tips-tips menghilangkan penyakit waswas.

Setidaknya, ada enam cara untuk menaklukkan penyakit setan itu :

1. Tidak menghiraukan.

Obat terampuh untuk menumpas waswas adalah tidak menghiraukan ketika keraguan datang. Contoh, ketika melakukan Takbiratul Ihram, hatinya ragu sah atau tidak, maka keraguan itu tidak usah dihiraukan. Lanjutkan saja shalatnya. Yakinlah bahwa Takbiratul Ihram-nya sah. Jika hal itu dilakukan, waswas sedikit demi sedikit akan hilang. Namun, apa bila dituruti, maka waswas itu akan semakin bertambah dan bertambah sehingga akan membuat empunya seperti orang gila.

2. Sadar bahwa waswas itu dari setan.

Sebagaimana sudah maklum, setan adalah musuh bebuyutan kita. Mereka berusaha keras untuk menjerumuskan kita ke jalan yang dimurkai Allah. Oleh Karen itu, mereka mengganggu kita saat kita beriabadah. Menyelipkan keraguan dalam hati kita; sah tidak niat kita, sah tidak bacaan tahiyat kita dan setersunya. Dengan demikian, jika waswas datang, sadarlah bahwa setan sedang mengganggu kekhusyukan kita.

3. Tancapkan dalam hati bahwa agama Islam itu mudah.

Orang yang waswas biasanya menganggap ibadah yang telah dilakukan tidak sah. Misal, dia menganggap niatnya tidak sah, bacaan Fatihahnya tidak sah dan seterusnya. Sehingga dia mengulang-ulang apa yang telah dia lakukan. Hal itu hanya menyusahkan dirinya. Sebab, Islam itu mudah. Rasulullah saw tidak pernah memberikan pemahaman yang sulit tentang agama Islam kepada umatnya.

4. Belajar dengan tekun.

Baiasanya orang waswas disebabkan karena belaum mengerti betul tentang ibadah yang dia lakukan. Sebab, orang alim dan mengerti seluk beluk agama, dia tidak akan waswas. Oleh karena itu, bagi orang yang waswas, belajarlah agama secara berkelanjutan. Setidaknya ibadah yang di-waswasi. Misalnya ketika shalat, dia waswas, maka belajarlah tentang ilmunya shalat.

5. Bacalah Lâ Ilâha Illa-llâh.

Orang yang terkena penyakit waswas disunahkan memperbanyak kalimat tauhid ini. Sebab, ketika mendengar kalimat tauhid ini, setan akan lari.

6. Membaca ta’awwudz.

Utsman bin abil Aash pernah bercerita kepada baginda Nabi saw bahwa setan telah mengganggu shalatnya. Maka Nabi memerintahnya untuk membaca ta’awwudz dan meludah ke kiri tiga kali. Resep itu pun dilakukan. Seketika, penyakit waswas itupun hilang.

Demikianlah obat waswas menurut Ibnu Hajar al-Haitami. Semoga kita semua dapat mengamalkannya sehingga penyakit waswas hengkang dari hati kita.

Berikut pertanyaan-pertanyaan anda dan sekaligus jawabannya :

1. Apakah hukumnya di dalam islam jika ragu-ragu terucap atau tidaknya dalam kalimat sharih dan ragu-ragu ada niat atau tidak dalam kalimat kinayah yang mana orang itu mempunyai sifat peragu?
 
Keraguan dalam Islam tidak menimbulkan hukum, ada Kaidah fikih berkaitan dengan ragu-ragu sebagai berikut :

لاَ يُعْتَبَرُ الشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ وَمِنْ كَثِيْرِ الشَّكِّ

Rasa ragu setelah melakukan perbuatan dan rasa ragu dari orang yang sering ragu itu tidak dianggap
Kaidah ini merupakan cabang atau bagian dari kaidah “keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan sekedar keraguan”. Secara umum, kaidah ini menjelaskan tentang orang yang mengalami keragu-raguan dalam suatu amalan. Jika rasa ragu itu muncul setelah melakukan suatu amalan, maka rasa itu tidak perlu dihiraukan. Demikian pula, jika rasa ragu itu muncul dari orang yang sering ragu.

Dan sebetulnya Kaidah tersebut diambil dari firman Allah dalam suroh Yunus ayat ke-36 yng artinya " Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikitpun berguna untuk melawan kebenaran"

2. Apakah hukumnya di dalam islam jika lupa pernah mengucap atau tidak baik dalam kalimat sharih maupun kalimat kinayah yang mana orang itu mempunyai sifat pelupa?
 
Ketika anda tahu mempunyai sifat pelupa, maka biasakan untuk mencatat apa saja yang anda lakukan yang berpotensi menimbulkan hukum
Tetapi kalau lupa tersebut karena sebab ragu-ragu atau waswas, maka tidak menimbulkan hukum
 
3. Bagaimana hukumnya di dalam islam jika kalimat kinayah diucapkan dalam bentuk pertanyaan?
 
Kalau disampaikan dalam bentuk pertanyaan, maka tidak menimbulkan hukum, kecuali istri menetujui apa yang anda tanyakan
 
4. Bagaimana hukumnya di dalam islam jika seseorang tidak dapat membedakan apakah beneran ada niat atau bukan dalam kalimat kinayah?
 
Itu namanya ragu-ragu, dan kembali pada hukum ragu-ragu, bahwa ia tidak menimbulkan hukum
 
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA