Tidak Satu Tujuan

Lain-lain, 8 Oktober 2019

Pertanyaan:

Saya sudah 4 tahun lebih menjalani rumah tangga..dan sudah mempunyai anak perempuan usia 3 tahun. Kebetulan dulu memng menikah bukan karena saling mencintai tapi terpaksa karena usia sudah cukup yaitu memasuki 30 tahun. Awalnya memang saya trauma dengan hubungan2 saya sebelumnya yg selalu gagal tapi saya berharap bisa menjalankan pernikahan ini dengan baik dan akan berusaha menerima pasangan saya.Sebelum menikah saya menganggap calon suami sudah mapan karena mempunyai pekerjaan tetap di jakarta.Di awal pernikahan dia mengajak pindah ke jakarta namun saya menolak karena saat itu saya sedang kuliah dan mengajar di satu sekolah taman kanak2.Lalu saya meminta dia untuk pindah alamat di tambah juga akhirnya saya hamil anak pertama..ternyata setelah anak pertama lahir dia memutuskan untuk keluar kerja dan akhirnya menetap di kampung di Brebes untuk bertani dengan ayahnya.Saya kecewa seolah semua tidak terjadi seperti yg saya harapkan.Di Samping itu juga dari awal karena pernikahan kami tidak atas dasar cinta saya selalu merasa terpaksa ketika harus melayani sebagai istri "..".dan itu jarang sekali kami lakukn..saya cenderung selalu menolak keinginannya.Setelah itu selalu timbul pertengkaran..Dia selalu beralasan klo saya tidak mau melayani dan saya selalu beralasan dia tidak bisa memenuhi kebutuhn rumah tangga dan seolah tidak akan ada harapan untuk masa depan.Sebenarnya saya tidak bahagia tapi saya ingat sudah ada anak di samping dia itu juga perhitungan dengan keuangan.Bagaimana sebenarnya masa depan rumah tangga saya?Apakah harus di pertahankan atau bagaimana?



-- Karmiti (BREBES)

Jawaban:

Wa'alaikum salam wrahmatuLLAHI wabarokaatuH.

Bu Karmiti yang dirahmati ALLAH SWT.

Bersyukurlah kepada ALLAH SWT karena sudah berkeluarga dan sudah dikaruniai anak.

Tumbuhkanlah cinta Anda kepada suami Anda dengan cara melihat sisi baiknya suami Anda sampai mau mangalah untuk pulang kampung karena mengikuti Anda yang tidak maupindah ke Jakarta. Dan jangan gampang kecewa apalagi ditunjukkan di hadapan suami. Tahan emosi Anda jangan gampang bertengkar karena mengikis rasa damaidan tentram keluarga.

Ingat, suami Anda sekarang menjadi Ayah dari anak Anda. Semoga ini jadi daya tarik yang lebih kuat untuk menumbuhkan cinta pada suami karena hubungan ayah dan ibu pasti akan berpengaruh besar pada kejiwaan ananda. Pasti ananda akan ikut merasakan indahnya hidup dalam rumah tangga yang kedua orangtuanya punya hubungan harmonis.

Nikmatilah hubungan badan suami istri sebagai karunia ALLAH SWT . Apalagi suami memintanya jangan sampai ditolak, terimalah tawaran itu sebagai shadaqah dan ikhlaslah melakukannya sebagai bentuk ibadah dan ketundukan kepada ALLAH SWT.

RasuluLLAH saw mengingatkan istri yang suka menolak ajakan suami untuk bersenggama:

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ فَلْتَأْتِهِ وَ إِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu mendatanginya sekalipun dia berada di dapur.” (HR. Tirmidzi: 4/387)

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ اِمْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا اَلْمَلآئِكَةُ حَتىَّ تُصْبِحَ

“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)


Semoga ALLAH SWT memudahkan keluarga Anda berjalan dengan harmonis , cinta dan bahagia

WaLLAHUa'lam bishshawaab

 



-- Selamet Junaidi