Istri Hamil Minta Cerai

Lain-lain, 14 Oktober 2019

Pertanyaan:

Assalamualaikum, ustadz istri saya sering tidak pernah mau ceritakan kemana kalau keluar rumah, hanya saja anak tiri beritakan kalau mamanya bergaul dengan teman alumninya, akhirnya kami bertengkar selama 8 bulan di pergi dari rumah saya ke orang tuanya, karena kabur tak bilang suami saya tidak kirimkan nafkah tapi saya titipkan ke anak tiri, ternyata anak tiri tidak memberikan nafkah ke mamanya, maka tidak iklas siistri minta cerai, saya dipaksa untuk menulis surat cerai dan ternyata surat cerai itu untuk pernikahannya dengan teman alumniya. saya sabar menunggu istri saa sadardari perbuatannya nov 2017 akhirnya saya tanyakan lagi bagaimana  mau bersama lagi tidak, setuju nikah ulang, akhirnya kami bersama lagi tetapi anehnya hamil digugurkan tanpa peretujuan saya, lalu hamil lagi 2019 saya tanyakan jika ini anak saya yuk kita silaturahmi ke teman kamu yang dahulu, dan katanya lebih baik  cerai? bagaimana saya berbuat, 6 bulan sdh pulang ke orang tuanya.jazakallah..



-- Kartono (Jakarta Timur)

Jawaban:

Wa'alaikum salam warahmatuLLAHI wabarokaatuH.

Saudara Kartono yang dirahmati ALLAH SWT.

Suami istri dalam Islam seperti pakaian sebagaimana firman ALLAH SWT dalam surah Al Baqarah 187 :

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ 

 .......mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka...........

Maknanya adalah:

Pertama, sebagai bentuk kedekatan pasangan. Pasangan suami istri diibaratkan seperti pakaian dari sisi kedekatannya. Pakaian selalu menempel dengan kulit. Tidak ada jarak yang memisahkan keduanya. Maka dalam rumah tangga seharusnya ada rasa saling percaya, transparansi, tanggung jawab, dan saling setia.

Kedua, saling merangkul. Sebagaimana umumnya, merangkul adalah aktivitas yang menunjukkan adanya rasa sayang, memiliki, bahagia, suka, dan tempat bersandar. Begitulah semestinya pasangan suami istri. Ada rindu jika jauh, ada kedamaian jika berada di sisi. Mereka adalah dua insan yang saling menghangatkan baik di kala suka maupun duka. Tempat bersandar di tengah kesedihan yang melanda. 

Ketiga, saling membutuhkan. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa dalam rumah tangga ada hak dan kewajiban. Keduanya harus memiliki sikap responsif terhadap pasangan. Dalam hal ini pasangan suami istri berperan sebagai partner dalam menjalani kehidupan. Saling membantu, saling menopang, saling meringankan dan sebagainya.

Makna pakaian bagi pasangan suami istri yaitu saling menutupi keburukan di antara keduanya .Pasangan suami istri tidak boleh membeberkan keburukan masing-masing kepada orang lain. Bahkan kepada orang tua sendiri.   Di antara salah satu sebab gagalnya rumah tangga adalah pasangan yang belum mencapai kedewasaan dalam menghadapi masalah rumah tangganya. Setiap kali ada masalah cerita kepada orang tuanya, sehingga menjadikan masalah justru semakin bercabang. Belum lagi jika kedua belah pihak keluarga saling menyalahkan satu sama lainnya. Permasalahan semakin kompleks ketika tumpang tindih dengan persoalan lain seperti kurangnya penerimaan pasangan atas kondisi ekonomi yang pas-pasan, perselingkuhan, dan lainnya.

Nah idealnya sebelum pernikahan ,, calon suami istri harus memahami benar prinsip-prinsip ini. Maka bila ingin melanjutkan keluarga ini ,harus ada kesanggupan Anda dan istri dengan ketentuan tersebut.

Ini yang menjadi pertimbangan mendasar Anda untuk memutuskan. Semoga ALLAH SWT  memberi solusi terbaik.

WaLLAHU a'lam bishshawaab

 



-- Selamet Junaidi