Gratifikasi

Fiqih Muamalah, 24 Oktober 2019

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum 

Saya ingin bertanya tp sebelumnya sy ingin menjelaskan situasi dilapangan, sy seorang staff gudang di perusahaan jasa pengiriman, setiap bulan sy mengorder utk pembelian barang2 keperluan kantor dan operasional, ketika barang itu datang di gudang maka tugas sy adalah memindahkan dan menata barang2 yg datang tersebut ke dalam gudang, namun vendor yg mengirim barang2 tsb juga memberikan fasilitas uang jasa kuli angkut untuk memindahkan dan menata barang2 tsb (uang jasa kuli angkut diluar kontrak jual beli), awalnya sy yg ditawari namun sy tidak sanggup krn barang2 nya berat lalu sy mencari kuli, setelah mendapatkan kuli dan pekerjaan memindah barang sdh dilakukan oleh kuli maka sy bayarlah kuli tsb dari uang yg ditransfer oleh vendor, namun pd transferan uang kuli tsb vendor melebihkan uang utk saya meski tidak banyak sekitar +- Rp. 100.000 dg alasan sy telah membantu vendor tsb, yang sy tanyakan apakah sy boleh menerima uang tsb? Apakah uang tsb termasuk gratifikasi yg diharamkan?

Mohon penjelasannya krn sy khawatir utk menggunakannya..

Wassalamu'alaikum



-- Ahyat Adin (Sidoarjo)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr.wb.

Pada uang pemberian seperti itu dari pihak vendor terdapat unsur syubhat, sehingga sangat berpotensi untuk diperselisihkan.

Di satu sisi sangat mungkin ada yang berpendapat bahwa, uang pemberian tersebut sah dan halal sebagai hak Anda meskipun tanpa sepengetahuan pemilik gudang dimana Anda bekerja. Karena jasa yang dirasa oleh vendor telah Anda berikan dan karenanya dia memberi upah tersebut, adalah terpisah dan tidak terkait langsung dengan pekerjaan Anda di gudang. 

Tapi di sisi lain sangat boleh jadi ada juga yang menghukuminya haram, karena melihat bagaimanapun "uang jasa" itu Anda dapatkan di tengah-tengah dan di waktu Anda sedang menjalankan tugas serta amanah dari yang mempekerjakan Anda sebagai penjaga gudang.

Sehingga untuk lebih amannya, memang sebaiknya Anda sampaikan saja tentang "uang jasa" tersebut kepada pemilik gudang atau wakilnya. Dimana jika dia membolehkan dan mentolerirnya untuk Anda, maka uang itupun telal menjadi halal sehalal-halalnya bagi Anda, tanpa ada sedikitpun keraguan lagi tentangnya.

Demikian jawaban singkat yang bisa kami berikan, semoga manfaat.



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA