Gimana Pernikahannya

Lain-lain, 28 Oktober 2019

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, saya mau nanya kalau seseorang yg sudah menikah lalu dia mengucapkan kalimat kekufuran secara sengaja atau tidak sengaja bagaimana hukum pernikahannya?? 

Kalau dia mengucapakan syahadat lagi dan bertobat apakah pernikahannya juga harus diulang atau tidak. 



-- Edwin (Padang)

Jawaban:

Wa'alaikum salam warahmatuLLAHI wabarakaatuH

Saudara Edwin  yang dirahmati ALLAH SWT.

Maaf pertanyaan Anda masih pengertian umum dengan kalimat "kekufuran".

Seperti ini misalnya: " Aku berhasil karena kehebatan saya". Tanpa melibatkan ALLAH SWT. Maka kalau demikian seorang suami atau istri ketika mereka besikap kufur baik dengan lisan atau perbuatan, itu adalah perbuatan dosa. Pasti ada pengaruh pada perjalanan rumahtangganyan tetapi tidak sampai membatalkan status pernikahannya. Tapi cukup istighfar dan taubat.

Tapi kalau yang dimaksud adalah keluar dari Islam (murtad ) maka iktan pernikahannya batal karena salah satunya kafir. Sebagaimana firman ALLAH SWT:

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

Menurut Syaikhul Islam dan Ibnul Qayyim, apabila salah seorang dari pasangan suami-istri murtad, maka pernikahannya harus dibekukan. Apabila dia kembali masuk Islam, maka pernikahannya sah lagi, baik dia masuk Islam sebelum melakukan hubungan badan atau setelahnya, baik dia masuk Islam sebelum masa iddahnya habis atau sesudah masa iddahnya habis.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Demikian pula masalah murtad, pendapat yang menyatakan harus segera diceraikan adalah menyelisihi sunah yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab pada masa beliau, banyak pula manusia yang murtad. Di antara mereka ada yang istrinya tidak ikut murtad. Kemudian, mereka kembali masuk Islam lagi dan istri-istri mereka pun kembali lagi kepada mereka. Tidak pernah diketahui bahwa ada seorang pun dari mereka yang disuruh memperbaharui akad nikahnya. Padahal sudah pasti bahwa di antara mereka ada yang baru masuk Islam setelah sekian lama, melebihi masa iddah. Demikian pula, sudah pasti bahwa mayoritas dari istri-istri mereka yang tidak murtad tersebut, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menanyakan secara mendetail kepada seorang pun dari suami-suami yang murtad, apakah dia baru masuk Islam setelah masa iddah istrinya habis atau sebelumnya.”

WaLLAHU a'lam bishshowab

 



-- Selamet Junaidi